Minggu, 01 April 2012

PEMROGRAMAN BAHASA OTAK


PEMROGRAMAN BAHASA OTAK
By Wong Alus
            Alam semesta (makrokosmos) memang sangat-sangat luar biasa. Dia hidup, memiliki prinsip dan kinerja yang maha ikhlas sehingga selalu bersih dan bebas dari residu.
            Manusia adalah mikrokosmos, replika alam semesta yang juga memiliki gambaran kesempurnaan yang sama. Kajilah bermilyar-milyar sel-sel syaraf yang ada di otak yang sama jumlahnya dengan bintang-bintang di langit, maka Anda memiliki pengelihatan tentang alam semesta secara utuh.
            Sebagai susunan syaraf pusat, otak adalah pengendali seluruh sistem kinerja tubuh. Di otak pula, semua elemen pengetahuan yang dalam ranah psikologi biasa disebut kognitif afektif konatif manusia itu ada. Ketika orang merasa sedih, bahagia, khusyuk, maka di bagian-bagian tertentu di otaklah yang sebenarnya bekerja. Rasa sakit di tubuh sumbernya di otak pula. Sebaliknya, sukses, sehat, bahagia, sejahtera dan kaya sumbernya juga dari otak.
            Artikel ini berupaya untuk memberikan petunjuk sederhana tentang bagaimana cara menstimulasi otak dengan sebuah teknik canggih yang dikenal di dunia neuroscience sebagai Neuro-linguistic Programming. Meski sederhana, semoga kehadirannya memberi arti dan manfaat yang nyata bagi Pembaca Blog yang Budiman.
1. PROLOG
“Bila Anda mengubah keyakinan Anda,
Anda mengubah harapan Anda,
Bila Anda mengubah harapan Anda,
Anda mengubah sikap Anda,
Kalau Anda mengubah sikap Anda,
Anda mengubah tingkah laku Anda,
Bila Anda mengubah tingkah laku Anda,
Anda mengubah kerja Anda,
Bila Anda mengubah kerja Anda,
Anda mengubah hidup Anda”

            Neuro-linguistic Programming disingkat NLP adalah satu metode pengembangan pribadi menuju sukses. NLP juga kerap disebut sebagai perangkat lunak atau “software” dari otak yang mengijinkan apapun pengalaman yang ingin dilakukan seseorang. NLP bermanfaat bagi setiap pribadi yang ingin sukses di berbagai bidang yaitu akan mempertajam kemampuan berkomunikasi sehingga bermanfaat bagi mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan, kedokteran, konseling, motivator, konsultan, jajaran manajemen, negosiator, juga amat bermanfaat bagi orang tua, pembicara publik, olahragawan dan banyak bidang lainnya.
            Seseorang yang telah memperoleh pelatihan NLP memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalunya, menjadi pribadi yang optimis dan bersemangat mencapai tujuan yang ingin diraih. Metode pengajaran NLP secara mendasar adalah metode terapi dengan penerapannya yang luas. Yaitu memberikan pengajaran bagaimana orang menggunakan otaknya. Dipelajari proses otak bekerja sehingga ketika seseorang mengetahui apa yang bisa dilakukannya, maka sangat dimungkinkan untuk menggunakannya secara optimal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih luas.
            Berbeda dengan pelatihan yang lain, pelatihan NLP melibatkan perasaan, feeling dan emosi. NLP membantu untuk mentransformasikan perasaan-perasaan lemah menjadi perasaan yang penuh kekuatan. Membantu mengubah ingatan usang tentang citra diri yang gagal menjadi citra baru yang positif.
            Ada beberapa pola pelatihan NLP yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung. Yaitu mengubah perasaan, belajar berpikir dengan strategi dan pendekatan yang baru, mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk dan memotivasi diri untuk maju. Pola pelatihan lainnya bermanfaat untuk bidang lainnya.
            Neuro Linguistic Programming (NLP), bisa dikatakan seperangkat teknik-teknik canggih untuk menggunakan pikiran, mental, dan fisik yang memberikan kemampuan Anda untuk mengubah, mengadopsi, atau menghapuskan perilaku-perilaku sesuai keinginan Anda, dan memberikan kemampuan untuk memilih sendiri kondisi mental, emosional, dan kondisi fisik.
            Teknik-teknik ini telah terbukti memberikan hasil, aplikasinya hampir tidak terbatas. Saat ini bahkan sudah diterapkan di berbagai perusahaan kelas dunia (Fortune 500), dunia pemasaran, manajemen, komunikasi, pelatihan, pendidikan, olahraga, ilmu pengobatan, dan pengembangan pribadi.
            Berbagai sistem lain diluar NLP juga sangat baik dalam menemukan permasalahan tapi tidak memberikan tools yang dapat digunakan secara pribadi, tanpa rasa sakit, dan menjanjikan perubahan yang lebih cepat yang tersedia bagi anda untuk meningkatkan hidup, kesehatan, hubungan, karier dan keuangan. Penelitian membuktikan bahwa teknik-teknik NLP ini adalah lebih baik dalam menciptakan perubahan yang lebih cepat dalam kehidupan, dengan cara yang menyenangkan. ***

II. DETAIL NLP
            Amerika Serikat awal tahun 1970, tepatnya di University of California. Berkumpullah satu tim untuk bekerjasama dalam usaha menjelaskan proses berpikir, pola-pola bahasa dan pengaruhnya pada pola-pola kebiasaan manusia. Tim terdiri dari John Grinder (profesor linguistik di University of California di Santa Cruz), Richard Bandler (peneliti psikologi dan matematika di Santa Cruz), Fritz Perls (pendiri terapi Gestalt), Virginia Satir (psychotherapis), Milton Erickson MD (hypnotherapis yang inovatif) serta Gregory Bateson (antropolog dan penemu teori komunikasi). Tim ini akhirnya menemukan beragam kebiasaan dan elemen psikologi yang dialami individu yang tidak disadari dan tidak mampu dijelaskan sebelumnya.
            NLP lantas dipopulerkan oleh Anthony Robbins hingga meluas di USA dan seluruh dunia, belakangan Anthony Robbins membuat merek sendiri, yakni NAC (Neuro Associations Conditioning). Barisan pelopor NLP lantas mulai mengibarkan sayapnya merambah dataran aplikasi di luar terapi. Ilmu ini dikembangluaskan untuk mencapai berbagai keunggulan manusia; antara lain untuk meraih keunggulan di bidang komunikator, olahraga, leadership, pengajar, bisnisman, karyawan, penyanyi, meditasi, dan berbagai sukses lainnya.
            Modelling dalam NLP memungkinkan untuk mempelajari dan menduplikasi keahlian seseorang. Aplikasi modelling ini sungguh tak terbatas. Bila ada seseorang pernah melakukan sesuatu hal, maka dengan modelling kita juga dapat menduplikasi agar bisa melakukannya juga. Melalui NLP kita juga bisa melakukan coding suatu perilaku unggul manusia dan memetakannya dalam suatu pola-pola inti tertentu. Pola-pola inilah yang kemudian disusun ulang dengan urutan dan kombinasi tertentu akan menjadi model of excellence yang dengan mudah untuk diduplikasikan kepada orang lain.
            Dengan menganalisa pola-pola berbicara, besar suara dan pilihan kata-kata, maka akan berpengaruh pada seperti gerakan tubuh (gestur) serta gerakan mata. Peneliti Grinder dan Bandler menunjukkan hubungan antara bahasa tubuh (body language) dan pola berbicara. Tim kemudian menghubungkan dengan proses berpikir internal dan didasari temuan awal ini Grinder dan Bandler melatih para klien yang memiliki preoblem emosi yang sulit.
            Misalnya, yang klien ditanya tentang problemnya akan menampakkan gerakan mata, tubuh, suara dan pola-pola nafas akibat dari pola-pola yang tidak sadar (unconscious) dan bergantung pada situasi emosional. Pola unconscious ini kemudian diubah dengan pola yang baru.
            Setiap yang kita alami direpresentasikan secara internal oleh sistem syaraf kita. Tanpa kita sadari kelima indra ini secara konstan menerima dan memproses informasi tentang dunia dan tentang kita. Oleh karena body and mind adalah suatu bagian dari sistem yang tak terpisahkan, maka apapun yang terjadi pada salah satu bagian akan memiliki efek pada bagian yang lain.

            Misalkan, kita tidak dapat berpikir tentang sesuatu hal tanpa diikuti oleh respon fisik tertentu, demikian juga sebaliknya. Terkadang kita tidak mendengar apa yang tidak kita ingin dengar, inilah yang kita sebut sebagai filter, disinilah terjadinya perbedaan antara mendengar dan mendengarkan. Karena filter visual, maka kita juga tidak melihat apa yang tidak kita ingin lihat, inilah perbedaan antara melihat dan memperhatikan.
            Ada lima rep system dan yang yang menonjol hanya tiga, yaitu V (Visual), A (Auditorial) dan K (Kinestetik), sementara karena O dan G sangat jarang digunakan. Sehingga kita memasukkan O dan G kedalam kategori K. Inilah yang disebut sebagai konsep VAK dalam NLP, konsep ini sangat terkenal, bahkan banyak orang mengira NLP hanyalah VAK ini.
            Menariknya, dalam berkomunikasi seseorang akan menggunakan sejenis kode-kode rep system pilihan mereka. Ada orang tertentu yang lebih suka menggunakan indera mata dalam memahami sekitar, mengingat informasi dan mengambil keputusan. Dengan demikian rep-system-nya akan lebih cenderung didominasi oleh hal-hal yang sifatnya Visual.
            Dalam bahasa NLP, orang ini akan disebut sebagai orang dengan preferensi visual (Visually Preferred System). Jadi jika dicermati, dalam berkomunikasi kita akan temui beberapa preferensi, orang dengan preferensi V (Visual), orang dengan preferensi A (Auditorial), dan orang dengan preferensi K (Kinestetik). Dan orang dengan berpreferensi V tetaplah memiliki rep system A ataupun K dalam cara ia memahami dunia, mengingat memori dan mengambil keputusan. Hanya saja ia lebih suka (prefer) untuk menggunakan rep-system V dibandingkan dengan yang lainnya.
            Dalam upaya mengenali apakah pref-system sesorang, kita dapat melihat dari pilihan kata yang dipergunakan, dan bahasa tubuh khususnya gerakan mata. Sebagai contoh, orang-orang yang pref-system-nya V, akan cenderung menggunakan kata-kata dengan predikat V seperti (kelihatannya, nampaknya, pengamatanku, dll). Demikian pula ia juga akan suka mengunakan berbagai kata yang mencerminkan penggunaan mata, seperti: indah, terang, cerah dan sebagainya. Untuk orang berpreferensi A, akan banyak menggunakan kata-kata berpredikat A (kedengarannya, perkataan mu) dan kata-kata yang mencerminkan penggunaan telinga.
            Sedangkan untuk orang berpreferensi K akan banyak menggunakan predikat K (perasaanku, rasanya, dll) dan kata-kata yang mencerminkan penggunaan rasa. Jika Anda dapat mengenali kode preferred system lawan bicara Anda, maka Anda dapat berkomunikasi dengan sangat lancar dengannya. Caranya adalah dengan melakukan penyelarasan (pacing) dari kata-kata dan bahasa tubuh Anda sesuai dengan cara lawan bicara Anda.

            Saat Anda menyelaraskan kode verbal seseorang dengan menggunakan kata-kata dari rep system yang mereka pilih, maka mereka tidak usah meng-uncode untuk membuatnya bisa dimengerti. Inilah dasar dari rapport, yakni menggunakan rep system yang sama yang dipakai orang lain yang berkomunikasi dengan mereka. Sehingga fokus pelatihan Neuro-linguistic Programming (NLP) adalah bagaimana seseorang itu belajar berkomunikasi, mengubah keyakinan, tumbuh berkembang dan menyembuhkan dirinya.
            Dari asal katanya, kata “Neuro” mengacu pada cara bekerjanya otak dan bagaimana manusia berpikir secara konsisten dan serta pola-polanya yang tetap. Kata “Linguistic” mengacu pada pengungkapan pola-pola kerja otak melalui bahasa untuk berpikir baik verbal dan nonverbal. Sementara kata “Programming” adalam memasukkan suatu gagasan atau konsep ke otak. Ini mengacu pada bagaimana pola-pola ini dipahami dan diketahui oleh pikiran dan bagaimana melampauinya sehingga seseorang akan bisa membuat pilihan yang lebih baik bagi kebiasaan dan kesehatannya.

            Orang yang memiliki kesulitan untuk menyembuhkan sakit fisik hampir selalu memiliki keyakinan negatif penyakitnya, apakah dia bisa sembuh atau tidak. Mereka beepndapat tentang tidak adanya bantuan dan tiadanya pertolongan, hilangnya harapan, bahkan akan mengatakan “Saya tidak bisa sembuh.”

            Tujuan lain NLP dengan begitu adalah menggerakkan seseorang untuk mengubah keyakinan-keyakinan yang negatif dan kontraproduktif tersebut. Mereka akan dibantu untuk memprogram ulang keyakinannya tentang kesehatan dan lain-lain. Pelatihan NLP menerangjelaskan tentang bagaimana seseorang menemukan identitas dirinya, ketakinan pribadi, filsafat hidup serta tujuan-tujuan hidupnya.

            Berbagai penelitian medis menunjukkan bagaimana pengaruh keyakinan itu perubahan tubuh seperti kulit, kelembaban bibir, mata atau respon fisiologis lain. Dan keyakinan itu dimulai pada proses pemberian informasi dan selanjutnya diterima sebagai sugesti.

            Menurut Janet Konefal, Ph.D., dari Miami, Florida, identitas adalah komponen utama dari cara seseorang bernegosiasi dengan kondisi kesehatannya, khususnya seseorang yang sedang menderita sakit kronis. “Terlalu sering orang cenderung menjustifikasi dan sok tahu tentang penyakitnya. Jarang orang mengatakan saya John yang sedang dalam kondisi diabetes. Dia cenderung mengatakan saya sakit diabetes. Contoh lain, seorang tidak biasa mengatakan dia sedang terkena virus HIV, namun biasanya mengatakan saya sakit AIDS. Padahal, dengan mengatakan saya sakit diabetes, saya sakit AIDS ini, penyakit dalam tubuhnya langsung bergerak dan segera menekan tubuhnya,” kata Dr. Konefal

            Satu dari prioritas pertama pelatihan NLP adalah memisahkan identifikasi yang negatif dan salah dan selanjutnya membangun kembali identitas diri yang lebih baik. Perubahan ini akan memberikan keuntungan dalam beragam aspek individual bahkan sosial seperti keluarga, rekan-rekan kerja yang seimbang, bahkan juga sistem internal individu tersebut: pemikiran, strategi, kelakuan, kapabilitas, nilai-nilai dan keyakinannya.

            Setelah pelatihan NLP, biasanya dilakukan pengecekan antara sebelum dan setelah mengikuti pelatihan. Melalui pertanyaan dan jawaban yang jujur dalam satu forum khusus terbatas. Langkah selanjutnya instruktur akan menanyakan pada klien untuk melihat dirinya sendiri dan kondisi kesehatannya. Dengan kehati-hatian, hasilnya bisa dilihat dari proses kesembuhannya yang membaik. Respon otak yang alamiah adalam meniru apapun gambaran serta keyakinan yang baik. Otak kemudian memicu dan menggerakkan sistem kekebalan tubuh untuk membimbing tubuh agar sehat dan lebih baik.

            Di dalam pelatihan NLP, digunakan berbagai gerak untuk memperkuat efek visualisasi dalam otak. Para ahli otak menamakannya dengan sebuah jangkar (anchor) yang bermanfaat untuk memegang kondisi positif melalui sistem syaraf klien. Jangkar itu juga bisa diciptakan melalui metode pendengaran dan visual, ini bergantung pada kebutuhan klien.

            Dengan mengidentifikasi dan menggerakkan kembali batas-batas keyakinan seseorang tentang kondisinya, maka NLP memberikan keuntungan yang besar bagi kesehatan fisik maupun mental. Sistem kekebalan tubuh pun akan bekerja lebih baik.

            David Paul, M.D., direktur Rumah Sakit Valley Medical Center di Colorado, menggunakan NLP secara rutin di rumah sakitnya. Seperti bagi para korban cedera bahu. Standard pelatihan medis NLP di sini meliputi induksi keyakinan dan relaksasi otot, yang diikuti oleh manipulasi menyandarkan bahu ke belakang.

            Dr. Paul dan grupnya mengembangkan satu teknik yang menggunakan pola-pola bahasa yang berbasis NLP untuk membantu pasien agar berhasil relaksasi dan tidak memberi ruang bagi ketidaknyamanan dengan cara memanipulasi psikis pasien.

            “Kita gunakan kata-kata seperti biarkan tanganmu serileks mungkin,” jelas Dr. Paul, dan “biarkan bahumu rileks; perhatikan di tanganmu saat ini sudah nyaman dan bebas dari ketidaknyamanan.” Semua sugesti yang diberikan bersifat positif, tidak ada yang negatif dan juga sangat spesifik. Sembilan puluh lima persen bahu pasien bisa sembuh dan kembali ke sedia kala dalam satu menit atau kurang tanpa menggunakan morphine, valium, atau obat-obatan lain,” tukas Dr. Paul. Menurut penelitian medis yang dikembangkan di dalam NLP, informasi di otak adalah sandi dari lima indera; pengelihatan, pendengaran, sentuhan, rasa dan bau. Masing-masing indera juga dinamakan modalitas dan manusia juga memiliki subperangkat kualitas yang dinamakan submodalitas, yang berfungsi sama dengan remote control di perangkat televisi.

            Informasi itu dimunculkan kembali oleh otak melalui ingatan, submodalitasnya menentukan ketajaman memori yaitu kontras, warna dan volumenya. Contohnya, ketika mengingat seseorang di masa lampau, submodalitas akan menentukan di pikiran jauh dekatnya orang tersebut, apakah dia terlihat jelas warnanya, atau sebaliknya berwarna hitam dan putih dan seterusnya. Di dalam pelatihan NLP, oleh karena itu dilatih bagaimana submodalitas ini dikembangkan melalui berbagai latihan. Jalan lain mengubah batas-batas keyakinan adalah menggunakan teknik yang dinamakan menerbitkan kembali cetakan ingatan. Ingatan (memori) dicetak sejak usia kita masih muda. Ingatan positif bersifat memberdayakan/menguatkan sementara yang negatif berdampak pada trauma atau kebingungan yang kemudian dilupakan. Namun ini bergantung pada batas-batas keyakinan.

            Menurut trainer NLP Tim Hallbom, “Satu cetakan ingatan negatif yang dibangun dari keyakinan negatif bisa menciptakan problem serius ketika otak menduplikasi pesan ini dan mengirimkannya lagi ke tubuh. Sistem kekebalan tubuh akan segera longgar dan memerintahklan kondisi kesehatan tubuh untuk memburuk. Banyak respon kekebalan tubuh melemah akibat diciptakannya batas-batas keyakinan melalui trauma dan kebingungan”
            Instruktur NLP akan membantu mengidentifikasi batas-batas keyakinan yang dibentuk selama pembentukan cetakan keyakinan dan berusaha mencetak kembali atau menempatkan kembali memori di otak secara lebih proporsional dan positif. ***

III. PERANGKAT KERAS
            Otak manusia diakui sebagai struktur biologi yang paling canggih yang dikenal di manapun di bumi. Terletak di dalam tengkorak, otak merupakan organ terlindung paling baik di seluruh tubuh Anda dan menikmati prioritas tertinggi dalam hal pembagian darah, oksigen, dan zat-zat hara. Otak ini melayang dalam medium zat cair yang bersirkulasi dan betul-betul mengapung di dalam sebuah cangkang tahan guncang.

            Paul Thomas dalam Advanced Psycho Cybernetics and Psychofeedback menjelaskan bahwa otak manusia sangat padat. Beratnya hanya sekitar 1400 gram untuk pria dewasa dan 1275 untuk wanita. Otak hanya membutuhkan 1/10 volt listrik untuk dapat bekerja efisien, namun otak terdiri dari puluhan miliar sel saraf.

            Otak membuat komputer paling canggih pun jauh ketinggalan dalam hal kemampuannya yang betul-betul menakjubkan. Jaringan interkoneksi (yang disebut sinaps-sinaps) antara milyaran sel-sel saraf (neuron) di otak secara potensial sanggup memproses kepingan informasi dengan cara-cara yang jumlahnya setara dengan 2 sampai 10 pangkat 13. Ini merupakan angka yang jauh lebih besar daripada jumlah seluruh atom di alam semesta.

            Namun otak manusia demikian rapi susunannya sehingga bahkan untuk mendekati kemampuan semacam itu, sebuah komputer modern sekurang-kurangnya harus 10.000 kali lebih besar daripada rata-rata otak.
            Fungsi utama otak adalah mengendalikan semua kerja tubuh dan merancang tubuh itu sendiri. Bagian bawah struktur, dikenal sebagai batang otak, bersatu dengan sumsum tulang belakang untuk membentuk sistem saraf pusat, yang berhubungan dengan semua bagian tubuh. Maka setiap kegiatan otak akan mempengaruhi setiap sel dalam tubuh baik langsung maupun tidak langsung, melalui jaringan syaraf luas yang ada di seluruh jaringan tubuh

            Dari sudut pandang NLP, yang perlu diketengahkan adalah pembangian otak menjadi dua yaitu bagian sadar dan bagian tidak sadar. Bagian otak sadar adalah kemampuan rasional, obyektif, membeda-bedakan. Perannya ialah menampung informasi dari pengamalan sehari-hari. Menentukan apakah informasi itu bermakna atau tidak, dan mengambil keputusan. Bagian yang sadar selalu membuat keputusan menerima atau menolak informasi yang datang. Masing-masing informasi yang diterima bagian sadar selanjutnya diterima bagian tidak sadar pula sebagai sesuatu yang diyakini benar, sebagai fakta dan kenyataan.

            Maka bila Anda menerima gagasan bahwa Anda gagal, maka bagian tidak sadar akan menyetujui keyakinan tersebut dan bertindak mewujudkannya.
            Bagian tidak sadar ini mirip database di komputer. Yang berfungsi menyimpan dan mengambil lagi data yang berkaitan dengan setiap pengalaman, gagasan, gambaran atau ide yang pernah Anda hadapi. Bagian tidak sadar selalu bekerja untuk membuat setiap perkataan dan tindakan Anda sesuai dengan sebuah pola yang konsisten dengan pemrograman sadar Anda sebelumnya.

            Bagian tidak sadar menjamin agar Anda tetap setia kepada citra yang Anda miliki tentang diri Anda (cara berjalan, berbicara, berpikir, bertindak) dengan cara yang konsisten dengan informasi yang telah diterima oleh bagian sadar sebagai hal yang mewakili Anda sesungguhnya.
            Kunci sukses terletak pada pengendalian apa yang Anda pikirkan, sebab Anda selalu akan memperoleh apa yang terus menerus Anda katakan kepada pikiran Anda bahwa Anda menginginkannya. Bila Anda membuat pikiran sadar Anda terpancang pada apa yang Anda inginkan dan bukan pada apa yang Anda hindari, maka ini akan berkembang dalam pengalaman.

            Sukses oleh karena itu hanya terjadi kalau Anda secara sistematis mengendalikan pikiran-pikiran yang Anda bolehkan mengisi pikiran sadar Anda dari detik ke detik. Sukses akan berhasil diraih bila Anda memusatkan perhatian pada pikiran-pikiran positif serta menggunakan kata-kata dan tindakan untuk mengungkapkannya.
           
            Proses pikiran sadar mencakup empat langkah (1) pencerapan indera (2) asosiasi (3) evaluasi dan (4) keputusan. Semua proses ini berlangsung dalam sepersekian detik. Yang perlu dicatat dalam proses ini, tingkah laku Anda bukanlah sekedar fungsi dari apa yang sedang berlangsung. Tingkah laku bergantung pada (1) Rancangan yang dibiarkan memasuki kesadaran Anda, dan (2) database di ingatan. Bila sebuah pengalaman serupa di masa lalu menimbulkan keputusan tertentu, maka Anda akan menanggapi dengan cara yang sama saat pengalaman itu muncul lagi saat ini.

            Kumpulan data masa lalu itu disebut sistem keyakinan yang berfungsi sebagai kerangka berpikir Anda sewaktu mengalami hal-hal baru dalam hidup dan merupakan keseluruhan program yang harus dijalani otak. Sistem keyakinan ini pada umumnya tidak lengkap dan tidak dapat diandalkan. Maka, diperlukan kegigihan untuk mencari peluang untuk membetulkan keyakinan-keyakinan dengan memutakhirkan kenyataan model mental mereka. Sebab yang kita lihat hanyalah interpretasi otak kita terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Memang, kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi!

            Di dalam NLP, diupayakan secara sadar untuk membangun kreativitas dengan membayangkan suatu peristiwa dalam pikiran Anda secara mendetail dan peristiwa tersebut secara otomatis menjadi profil ingatan Anda. Otak tidak dapat membedakan antara pengalaman nyata dengan pengalaman buatan yang dilamunkan secara hidup dan mendetail. Bahkan, pengalaman nyata dan pengalaman buatan memiliki jejak neurologi yang sama.

            Dasar teori NLP sebagai berikut. Bahwa tubuh dan pikiran memiliki korelasi/koneksi. Apa yang dipikirkan seseorang akan terlihat di dalam bahasa tubuhnya dan sebaliknya bahasa tubuh seseorang akan mempengaruhi pikirannya. Seseorang yang tangannya menggaruk-garuk seputar mata artinya adalah begini, dan seseorang yang bersandar sambil tangannya membentuk semacam piramida artinya demikian. Apakah tanda-tanda seperti ini berlaku universal? Bagaimana jika lawan bicara memiliki kebiasaan bahasa tubuh tertentu?

            Menjawab pertanyaan diatas NLP mengembangkan disiplin yang disebut callibration (kalibrasi). Idenya adalah mengukur secara langsung bahasa tubuh seseorang, dengan terutama memperhatikan micro behavior. Yang dimaksud dengan micro behavior adalah bahasa tubuh yang cenderung subtle (nyaris tidak observable). Sejumlah di antaranya adalah yang disebut sebagai involuntary muscle movement (gerakan otot tak sadar).
            Dalam bermain kartu, misalnya, kita tidak boleh begitu saja percaya pada kata-kata lawan main mengenai kondisi kartunya. Kemampuan verbal adalah kemampuan yang biasanya paling berkembang selaras dengan usia seseorang. Bahasa hanyalah salah satu doorway bagi seorang manusia dalam mengemukakan apa yang ada di benak pikiran atau perasaannya. Ada pintu-pintu lain yang akan me-release keluar apa-apa yang kita pikir atau rasakan, yakni bahasa non verbal dan khususnya involuntary muscle movement tadi.
            Jadi sesungguhnya dalam setiap saat, seluruh tubuh kita mengirimkan sinyal-sinyal informasi. Kalibrasi adalah pengukuran mengenai fisiologis seseorang sehingga kita bisa tahu mengenai “state” nya.

            Cara mengkalibrasi seseorang adalah dengan cara senantiasa mengamati tanda-tanda tertentu yang selalu muncul saat lawan main sedang senang, sedang netral dan sedang susah. Misalnya, pengukuran awal yang dilakukan sebelum main kartu, supaya lawan main tidak memanipulasi fisiologisnya. Ajak mengobrol lawan Anda sebelum main, tanyakan situasi-situasi yang akan membangkitkan perasaan senang dari lawan main. Misalkan : “Minggu lalu katanya kamu menang main lawan si Jane, bagimana ceritanya?”.

            Ditanya demikian, maka ia akan mengakses memorinya, dengan demikian emosi memori itu akan terakses pula. Teraksesnya emosi itu akan membawanya pada kondisi fisiologis tertentu yang harus Anda amati dan dicatat baik-baik dalam kepala Anda. Ingat, Anda juga harus menanyakan suatu situasi yang menyedihkan, seperti saat ia kalah main, atau saat ia sedang sial dan sebagainya. Tentunya Anda kemudian juga memiliki pembanding fisiologisnya saat sedang netral saja.

            Dari ketiga kondisi itu diulang beberapa kali secara halus, maka kita bisa mengukur (mengkalibrasi) fisiologis seseorang ketika senang, dan tidak senang dan netral. Sekali lagi, jangan tertipu dengan bahasa verbalnya, karena bahasa verbal adalah proses terakhir dalam komunikasi seseorang, yang pertama adalah non verbalnya (dalam hitungan detik) dan seseorang belum bisa berbohong saat berbahasa non verbal. Inilah dasar kalibrasi.

            Apa yang dikalibrasi? Yang dikalibrasi adalah “Nafas” terutama dimana lokasi nafas, kecepatan dan jeda. Termasuk juga perubahan suara: kecepatan, penggunaan VAK (representational system), volume, gerakan akses mata ke otak (Eye Accessing Cues). Penebalan atu penipisan bibir bawah. Perubahan postur, perubahan tegangan otot (leher, dekat mata, dll), perubahan besarnya pupil mata, perubahan ekspresi muka, perubahan warna kulit. Dan lain-lan.

            Maksud dari mengkalibrasi gerakan akses mata ke otak (eye accessing cues) adalah, jika seseorang sedang mengingat suatu peristiwa, fakta, berfikir kritis, maka manusia pada umumnya akan melirik ke kiri atas atau kiri samping. Sedangkan, pada saat ia mengimajina-sikan sesuatu (sedang meng-create suatu gambaran/suara) biasanya akan melirik ke kanan. Jika sedang melakukan self talk, maka ia akan melirik ke kiri bawah. Jadi amati bagaimana orang lain saat senang secara spesifik akan bernafas dengan cara tertentu, posturnya bagaimana, ketebalan bibir bawah, tegangan otot tertentu, perubahan warna kulitnya, gerakan mata dan seterusnya.

            Catat dalam hati, lakukan juga saat lawan bicara sedang tidak senang, dan tentunya saat ia sedang netral. Demikianlah, kejelian dan frekuensi dalam anda berlatih akan membuat anda menjadi mind-reader (pembaca pikiran). Bukan sekedar membaca bahasa tubuh yang sifatnya universal, bahkan anda bisa melakukannya secara spesifik pada setiap orang. Karena setiap orang memiliki micro behavior yang berbeda, jadi harus dikalibrasi tersendiri.

            seseorang, keluarga, bisnis, sales. Bahkan kepolisian USA menggunakan eye accesing cues untuk mengetahui kebohongan seseorang pada saat di interogasi. Inilah yang disebut dengan ketrampilan dalam reading people mind like a reading book.

IV. FREKUENSI OTAK
            Pemrograman bawah sadar otak lebih sukses bila Anda berada dalam suasana dan kondisi yang tepat. Yaitu saat otak berada dalam gelombang yang tepat.

            Memahami frekuensi atau gelombang Otak dalam dunia medis diperiksa, dimonitor dengan mempergunakan peralatan, yang disebut EEG atau electroencephalogram dan juga Brain Mapping. Perbedaannya adalah bahwa Brain Mapping hanya memeriksa secara fisik gangguan, kerusakan atau kecacatan otak (pusat syaraf) tersebut, misalkan tumor (kanker) otak, pecahnya pembulu darah otak (struck), benturan pada kepala dan seterusnya.

            Sedangkan EEG (electroencephalogram) , yang diperiksa, dimonitor dan direkam adalah gearan, frekwensi, sinyal atau GELOMBANG otaknya, yang kemudian di-“klasifikasi” kan kedalam beberapa kondisi kesadaran, bawah sadar, keadaan tidur atau mimpi dan seterusnya

            Getaran atau frekwensi adalah jumlah pulsa (impuls) perdetik dengan satuan hz (khz atau Mhz). Berdasarkan riset, getaran/frekwensi otak berbeda untuk setiap fase (sadar, tidur ringan, tidur lelap/nyenyak, panik, konsentrasi tinggi dan        seterusnya), sehingga pakar dalam bidang kejiwaan/psikiater (neurophysiologic) dan ahli syaraf membuat suatu sebagai berikut :
Getaran/Frekwensi :
1. •Gamma 16 Hz ~ 100 Hz
2. • Beta > 12 Hz
3. • SMR (SensoriMotor Rhythm) 12 Hz ~ 16 Hz
4. • Alpha ( Berger ‘s wave) 8 Hz ~ 12 Hz
5. • Theta 4 Hz ~ 8 Hz
6. • Delta 0.5 Hz ~ 4 Hz
            Keseluruhan frekwensi tersebut bergabung secara acak (berinterferensi), namun dengan EEG, frekwensi gelombang ini dapat dianalisa dan diuraikan satu persatu dengan catatan bahwa pada saat diukur, frekwensi mana yang paling dominan, serta memiliki amplitudo tertinggi, itulah yang dianggap dan berada pada fase tersebut, apakah fase Beta, Alpha, Theta atau Delta dan seterusnya. Amplitudonya diukur dan berkisar antara 1 ~ 50 uVolt (microVolt), sedangkan arus listriknya tidak diperhitungkan.

GAMMA wave ( 16 hz ~ 100 hz )
            Adalah frekuensi otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami “aktifitas mental yang sangat tinggi”, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, “nerveus”, kondisi ini dalam kesadaran penuh.

Gamma wave – EEG scan

            Berdasarkan penyelidikan Dr. Jeffrey. D. Thompson. D.C.B.F.A (Center for acoustic research) di atas gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma (tepat 100 Hz) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz).

BETA wave ( diatas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz )
            Adalah getaran otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami aktifitas mental yang sadar penuh dan normal aktif, konsentrasi penuh dan dapat dibagi pula menjadi 3 kelompok, yaitu highbeta ( 19 Hz + ) yang overlap/transisi dengan getaran gamma , lalu getaran beta ( 15 hz ~ 18 hz ), juga overlap/transisi dengan getaran gamma, selanjutnya lowbeta (12 hz ~ 15 hz).

Beta wave – EEG scan

SMR wave atau SensoriMotor Rhytm ( 12 hz ~ 16 hz )
            SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran lowbeta, namun mendapatkan perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir2 ini oleh para ahli, karena penderita epilepsy , ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder juga disebut ADD-Attention Deficit Disorder) dan autism tidak memiliki dan tidak mampu ber-“konsentrasi penuh” atau “fokus” pada suatu hal yang dianggap penting, dengan perkataan lain otak (pusat syaraf) sedikit bahkan tidak sama sekali menghasilkan getaran SMR . Sehingga setiap pengobatan, baik jiwa maupun fisiknya, ditujukan agar merespon getaran SMR tersebut, biasanya diaktifkan dengan biofeedback/neurofeedback .

SMR / SensoriMotor Rhytm – EEG scan

ALPHA wave ( 8 hz ~ 12 hz )
            Adalah gelombang pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami “releksasi” atau mulai istirahat dengan tanda2 mata mulai menutup atau mulai mengantuk, atau suatu fase dari keadaan sadar menjadi tak sadar (atau bawah sadar), namun tetap sadar (walaupun kelopak mata tertutup). Pada tahap awal MEDITASI (meditasi ringan) juga memasuki fase gelombang alpha. Inilah saat yang tepat untuk melakukan pemrograman otak (baca bab selanjutnya tentang Bentuk-Bentuk Pemrograman).

Alpha wave – EEG scan
            Frekwensi alpha 8 ~ 12 hz, merupakan frekwensi pengendali, penghubung dan melakukan aktifitas yang berpusat di sel-sel thalamic otak. Frekwensi alpha, 8 hz merupakan fase dan pintu masuk (gate-away) dari keadaan sadar menjadi tak sadar (bawah sadar) dan pintu masuk ke fase gelombang Theta (4 hz ~ 8 hz ). Biasanya kondisi di tingkatan ini tidak berlangsung lama dibanding dengan tingkatan lainnya ( gamma, beta, theta dan delta wave), namun merupakan bagian penting terutama bagi penderita ADHD , pada saat melakukan latihan-latihan dan pengobatan neurotherapy atau neurofeedback.

THETA wave ( 4 hz ~ 8 hz )
            Adalah getaran otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami keadaan tidak sadar atau tidur sangat mengantuk. Nafas melambat, dalam dan panjang, dibandingkan biasanya. Jika dalam keadaan sadar (tidak tidur), kondisi ini masuk ke fase atau dibawah pengaruh hipnosis, MEDITASI DALAM, atau sedang menjalani ritual2 agama, atau mengalirnya tenaga psikologi (Prana/Yoga, Reiki, Chi, Chi Kung).

            Dalam kondisi yang sadar (tidak tidur dan tidak dibawah pengaruh hipnotis, kesurupan atau epilepsi), seorang anak yang normal ( < 12 th) masih dapat memiliki getaran frekwensi theta, akan hilang sedikit demi sedikit setelah menjelang dewasa (kecuali pada saat menjelang tidur)
Theta wave – EEG scan

            Seorang anak (terutama bayi dan balita), rata-rata tidur lebih dari 12 jam setiap harinya, sehingga pada pusat syarafnya (otak) lebih banyak masuk dalam fase gelombang theta dan gelombang delta daripada gelombang beta dan alpha, sehingga dalam kehidupan nyata sehari-harinya, lebih banyak cara berpikir yang dianggap tidak masuk akal (berkhayal seperti bermimpi walaupun dalam kondisi sadar) dan sedikit demi sedikit akan berubah setelah menjelang remaja/dewasa. Anak INDIGO ( anak super cerdas dan memiliki indra ke-enam / ESP /Extra sensory perception), juga termasuk yang mudah memasuki fase gelombang theta yang cukup lama dan dapat permanen.

            Oleh sebagian peneliti, di dalam otak ada bagian yang disebut GOD SPOT. Bagian inilah yang bereaksi ketika kita beromunikasi dengan Tuhan. Komunikasi ini, konon terjadi apabila sebagai manusia biasa dapat memasuki fase gelombang theta (batas alpha – theta), misalnya pada saat kita berdoa, meditasi, melakukan ritual agama sadar atau tidak sadar. Apabila getaran otaknya diukur dengan EEG, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu sedang masuk difase gelombang theta (batas alpha-theta).
            Sedangkan dalam kondisi tidur normal, seseorang akan memasuki fase gelombang theta, walaupun hanya sebentar terutama secara periodik akan berpindah/bergeser ke-gelombang delta dan kembali ke theta berkali-kali diikuti getaran pelopak mata yang dikenal dengan REM ( rapid eyes movement ) dan Non REM atau NREM ( non rapid eyes movement ) selama tidur normal 7 ~ 8 jam perhari (lihat grafik dibawah), pada stage 1 dan 2 .

Schumann Resonance ( 7.83 Hz)
            Schumann Resonance adalah getaran otak pada frekwensi 7.83 Hz dan masuk dalam kelompok gelombang theta. Kondisi mental seseorang dalam gelombang otak ini adalah ESP-extra sensory perception, hipnotis, telepati serta aktifitas mental lainnya. Sedangkan Schumann resonance serta frekwensi diatasnya masuk kelompok frekwensi ELF (extremely low frequency pada bandwith 3 ~ 30 hz dan frekwensi infrasonic.

DELTA wave ( 0.5 hz ~ 4 hz )
            Adalah getaran otak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekwensi yang rendah, biasanya < 3 hz, yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami “ keadaan tidur sangat lelap” atau anak dibawah usia 13 th ketika dalam keadaan sadar penuh. Dalam keadaan normal, seorang dewasa yang sedang tidur pada malam hari, pada stage 3 dan 4 , NREM bukan pada stage 1 dan 2.

Delta wave – EEG scan
            Orang yang menderita atau gangguan otak (fisik, benturan otak, pendarahan otak dan koma), maka fase getaran yang terjadi akan didominasi oleh gelombang delta.
Penemuan baru dibidang frekwensi dan gelombang otak manusia oleh Dr. Jeffrey D. Thompson, D.C., B.F.A . ,dari Neuroacoustic research, bahwa masih ada gelombang dan frekwensi lain dibawah delta, atau dibawah 0.5 hz, yaitu frekwensi EPSILON, yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang seperti pada gelombang theta diatas.

IV. BENTUK-BENTUK PEMROGRAMAN

            Memprogram ulang pikiran adalah upaya mengubah apa yang telah dimasukkan ke dalam ingatan yang dilakukan dengan menggunakan pembiasaan otogenik. (Otogenik: dibangkitkan sendiri). Pembiasaan otogenik adalah terus menerus mengulangi sebuah pernyataan positif (afirmasi/induksi) saat berada dalam keadaan relaksasi progresif saat otak berada dalam gelombang alpha. Teknik ini memadukan dengan visualisasi yang berhubungan, yaitu representasi apa yang ingin Anda inginkan.
            Setidaknya ada tiga unsur pokok yang perlu dipenuhi dalam NLP yaitu mengatakan (afirmasi), mengkhayalkan (visualisasi) dan merasakan. Untuk memperkuat afirmnasi, digunakan jangkar khusus, misalnya dengan kepalan dan mengulangi kata “SAYA BISA!!!” terus menerus dengan cara yang tegas dan mantap.
Perhatikan contoh afirmasi berikut: “SAAT INI SAYA SUKSES,”
Perhatikan tiga hal mengenai pernyataan ini:

(1). Menggunakan kata ganti pertama “Saya”

(2). Mengenai masa sekarang, sebab alam bawah sadar hanya dapat berhubungan dengan dengan saat sekarang dan

(3) pernyataan bersifat positif dan tidak negatif. Alam bawah sadar tidak bisa mengingat sebuah pesan negasi misalnya, “Saya tidak gagal.” Yang bisa diingat adalah kata “Saya sukses” atau “Saya gagal.”

            Ada ratusan variasi pemrograman ulang pikiran dalam NLP. Berikut beberapa contoh yang berada dalam ruangan dan dalam posisi meditasi duduk.

I. PEMBENTUKAN KEYAKINAN
Posisi: Meditasi di ruangan yang tenang.
            Visualisasi: Bayangkan Anda yang puas dengan diri Anda dan sekeliling Anda. Ini akan menjadi pengalaman tertinggi meraih kebahagiaan mental. Kenang peristiwa masa lalu saat Anda merasakan kebahagiaan puncak.
Kini bayangkan bagaimana Anda berdiri, bernafas dan tampil dalam kebahagiaan ini.
            Sugesti: Kepalkan tangan dengan kuat dan tegas “SAYA BISA!!!” dengan suara meyakinkan. Dan sesaat renungkan seluruh tubuh Anda sewaktu berdiri dan alamiah seperti itu. Anda telah menanamkan keadaan mental yang positif dalam alam bawah sadar Anda dan Anda bisa mengingatnya kembali dalam keadaan genting seperti cemas, bingung dan sebagainya dengan mengepalkan tangan dan boleh dengan suara berbisik.
2. PEMBENTUKAN CITRA DIRI
            Posisi: Meditasi di ruangan yang tenang. Kedua tangan 20 senti di depan wajah, telapak tangan menghadap Anda.
            Visualisasi: Bayangkan tangan kiri Anda membingkai Anda yang lama peluh luka, borok, cacat fisik dan mental. Bayangkan pula Anda yang baru yang positif, bagus, indah, sukses, menyenangkan di tangan kanan Anda. Awalnya, pusatkan perhatian di tangan kiri dan berpindah ke tangan kanan dan posisikan tangan kanan di depan wajah menutupi tangan kiri.
            Sugesti: teriakkan AKU JADI BARU!!! Beberapa kali sampai gambar aku yang lama hilang berganti aku yang baru.

3. MEMBACA PIKIRAN ORANG LAIN
            Ini adalah variasi mengembangkan teknik NLP yang bermanfaat untuk berbagai keperluan yang positif.
            Posisi: duduk berhadapan dengan orang lain. Minta orang lain di depan Anda menuliskan angka sesuai keinginannya di kertas.
            Visualisasi: Bayangkan Anda adalah seorang yang memiliki kemampuan Extra Sensory Perception (ESP) yang mampu menebak apa yang dipikirkan orang lain. Selanjutnya visualisasikan Anda sedang bertanya angka berapa yang ingin ditulis orang tersebut, dan buka mata.. Lalu tebaklah angka berapa yang dia tulis.
            Sugesti: teriakkan AKU SAKTI!!! Setiap kali Anda akan menebak angka. Sambil mengamati gerakan akses mata ke otak (eye accessing cues) orang tersebut.

4. MENGIRIMKAN PESAN PADA ORANG LAIN DI TEMPAT LAIN (TELEPATI)
Ini adalah variasi lain teknik NLP
            Posisi: Meditasi atau duduk membelakangi orang lain. Jarak 2 meter.
            Visualisasi: bayangkan Anda mengirimkan pesan pada orang lain di lain tempat. Selanjutnya masukkan pesan itu dalam sebuah bola kristal cinta kasih dan letakkan di otak orang lain yang hendak Anda kirim pesan. Lalu lupakanlah pesan Anda!. Selanjutnya, minta orang lain mengatakan pesan apa yang ingin Anda sampaikan tadi. Cek kebenarannya.
            Sugesti: teriakkan SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA!!! Setiap kali Anda mengirimkan pesan.
            Pemrograman ulang pikiran dalam NLP yang berada di luar ruangan dan dalam posisi berdiri.
5. MENCAPAI SASARAN HIDUP
            Posisi: Ambil sebuah anak panah dan dalam posisi memanah.
            Visualisasi: Bayangkan tangan kanan Anda yang sedang memegang anak panah itu diri Anda yang sekarang ingin meraih tujuan hidup. Lalu bidik sasaran dan lepaskan anak panah tersebut.
            Sugesti: teriakkan AKU BISA!!! Setiap kali anak panah mencapai sasaran.
Ikuti dengan meditasi dan mengingat kembali kegiatan ini.
***
REFERENSI
Adolphs R, Tranel D, Damasio H, Damasio A (1994) Impaired recognition of emotion in facial expressions following bilateral damage to the human amygdala. Nature 372: 669-672.
Baddeley A (1992) Working memory. Science 255: 556-559.
Braun J, Julesz B (1997) Dividing attention at little cost. Percep & Psychophys, in press.
Britten KH, Shadlen MN, Newsome WT, Movshon JA (1992) The analysis of visual motion: a comparison of neuronal and psychophysical performance. J Neurosci 12:4745-4765.
Chalmers D (1995) The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. Oxford:Oxford University Press.
Crick F, Koch C (1990) Towards a neurobiological theory of consciousness. Sem Neurosci 2:263-275.
Crick F, Koch C (1995a) Are we aware of neural activity in primary visual cortex? Cumming BG, Parker AJ (1997) Responses of primary visual cortical neurons to binocular disparity without depth perception. Nature 389:280-283.
Doyl Staples, Walter (1991), Think Like Winner. Pelican Publishing.
Edelman G M (1989) The remembered present: a biological theory of consciousness. New York: Basic Books.
J. Weed, Joseph (1995) Wisdom of The Mystic Master, Dp publisher
Greenfield SA (1995) Journey to the centers of the mind. New York:
WH Freeman.
Libet B (1993) Neurophysiology of consciousness: selected papers and new essays by Benjamin Libet. Boston: Birkhäuser.
Milner D, Goodale M (1995) The Visual Brain in Action. Oxford: Oxford University Press.
O’Regan JK (1992) Solving the “real” mysteries of visual perception: the world as an outside memory. Canadian J Psychol 46:461-488.

HASIL MANIS


HASIL MANIS Andrea Stramaccioni
TRIBUNNEWS.COM - Hujan gol terjadi di Stadion Giuseppe Meazza, markas Inter Milan, Minggu (1/4/2012) WIB. Beruntung bagi tuan rumah, jumlah gol lebih banyak dikemas mereka atas Genoa. Hasil akhir Inter Milan menang 5-4 atas Genoa. Selain hujan gol, permainan juga diwarnai dengan banyaknya tendangan penalti.

Tiga dari empat gol Genoa diciptakan lewat titik putih. Wasit empat kali menunjuk titik putih. Tiga untuk Genoa dan satu untuk Inter Milan. Satu diantaranya yakni dikartu merahnya Julio Cesar karena melanggar Rodrigo Palacio di kotak penalti.

Hasil ini membuat Inter Milan meroket dua peringkat ke posisi tujuh klasemen, menggeser Catania dan Atalanta. Inter Milan kini mengemas 44 poin. Genoa tak bergeser dari posisi 15.

Kemenangan ini sekaligus debut yang manis untuk, Andrea Stramaccioni, pelatih baru Inter Milan.

Jalannya Pertandingan

Hujan gol dibuka Diego Milito di menit ke 13. Diego Forlan melepas umpan silang. Milito menanduk umpan itu dari jarak yang sangat dekat dari mulut gawang.

Milito kembali beraksi di menit ke 27. Milito sukses menggapai bola umpan panjang dari Dejan Stankovic. Ia pun "mengadali" kiper Genoa, Sebastien Frey. Inter Milan 2, Genoa 0.

Di menit ke-38 gilirannya Walter Samuel. Dengan kaki kirinya ia menembak di mulut gawang memanfaatkan umpan corner, Lucio.

Genoa bisa membuat gol lewat Emilliano Moretti. Giusppe Sculli melepaskan umpan lewat tendangan sudut yang sukses disambut dengan kaki kanan Moretti.

Inter Milan menguasai 56 persen penguasaan bola. Se puluh tembakan ke gawang dengan empat diataranya tepat sasaran. Sementara Genoa menembak sembilan kali dan lima diantaranya tepat sasaran.

Babak pertama Inter Milan 3, Genoa 1.

Rodrigo Palacio sukses mengeksekusi penalti di menit ke 59. Javier Zanetti kedapatan menyentuh bola dengan tangannya. Inter Milan 3, Genoa 2.

Di menit 74, Inter Milan memperbesar celah lewat Mauro Zárate memanfaatkan umpan dari Andrea Poli.

Wasit kembali menghadiahi Genoa tendangan penalti setelah memberi kartu merah kepada Julio Cesar. Julio melanggar Palacio di kotak penalti. Inter Milan memasukkan Luca Castellazzi sebagai kiper dengan mengeluarkan Mauro Zárate. Inter 4-3 Genoa.

Gantian Inter Milan dapat hadiah penalti di menit ke 85 yang sukses dieksekusi Diego Milito. Ini adalah hattrick bagi Milito. Inter 5, Genoa 3.

Lagi, wasit menunjuk titik putih. Alberto Gilardino mencetak gol lewat tendangan penalti di menit ke 90. Lucio melanggar Giuseppe Sculli.

Skor akhir, 5-4 untuk keunggulan Inter Milan.

Penulis: Prawira Maulana  | 
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Kepada semua pembaca “Blogtutorialmuhyi.414Blogspot”


Kepada semua pembaca “Blogtutorialmuhyi.414Blogspot”
Kami moho beberapa hal:
1. Komentar
2. Saran dan Keritik
3. Bimbingan

HALAMAN 138,50 USD.


Halaman 138
PEMBAHASAN I
PENGULANGAN HADITS DALAM ]KITAB SAHIH
AL-BUKHORI DAN MUSLIM
a. Pengulangan Hadits menurut al-Bukhori.
            Menurut al-Hafidz ibnu Hajar mengutip pernyataan Abul-Fadlol, Muhammad bin Thohir al-Muqaddisiy, bahwa al-Bukhori menyebut satu hadits dalam kitab sahihnya dalam beberapa tempat, dan beristidlal dengan hadits itu dalam setiap bab dengan isnad yang berbeda-beda, dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa dan pemahaman yang mendalam,  al-Bukhori berhasil menyajikan arti yang berbeda yang sesuai dengan bab itu, dan kadang-kadang al-Bukhori menempatkan satu hadits dalam dua tempat dengan satu isnad dan satu lafal akan tetapi menempatkanya itu Wallahu A’lam, dari sisi yang berbeda sesuai makna-makna, diantaranya:
1.  al-Bukhori mentakhrij hadits dari seorang sahabat kemudian menampilkanya lagi dari sahabat yang lain, tujuanya adalah mengeluarkanya hadits itu dari katagori hadits gharib, hal tersebut dilakukan al-Bukhori bukan Cuma ditingkat sahabat saja tetapi juga ditingkatan tabi’in dan tabi’I al-tabi’in dan seterusnya sampai pada guru-gurunya, maka yang bukan ahli disiplin ilmu hadits menganggap hal tersebut adalah pengulangan, kenyataanya tidak demikian, mengingat manfaat dan faidah yang terkandung didalamnya.
Halaman 139
2. al-Bukhori mensahihkan hadits-hadits berdasarkan kaidah yang telah ditetapkan, yang setiap hadits-hadits itu menyangkut arti-arti yang berubah-rubah, maka al-Bukhori menampilkanya lagi dalam beberapa bab dari jalur yang berbeda dengan jalur yang pertama.
3. Sebagian  hadits-hadits itu memang diriwayatkan oleh perawi-perawinya dengan sempurna, sebagian perawi-perawinya meriwayatkan dengan diringkas, maka al-Bukhori menampilkanya lagi hadits-hadits yang demikian biar tidak terjadi kesalahan dan pengkaburan dari penukilnya.

4. Sebagian perawi-perawi hadits-hadits berbeda ibarat ( cara penyampaian ) hadits dengan perawi-perawi yang lain, contoh: seorang perawi hadits meriwayatkan sebuah hadits dan didalamnya ada kalimat yang ada kemungkinan mengandung suatu arti, dan perawi yang lain meriwayatkan juga tetapi dengan tampilan berbeda yang mengandung arti yang lain, maka al-Bukhori menampilkan hadits-hadits itu dengan jalurnya masing-masing kalu sudah lengkap syarat-syarat kesahihanya, dan mensendirikan tiap-tiap kata pada bab khusus.
5. Ada hadits-hadits yang bertentangan tentang hadit maushul dan hadit Mursal, ketika al-Bukhori mentarjih dan berpegang teguh pada hadit maushul maka dicantumkan hadits itu dan menampilkan juga hadits yang mursal, sekedar mengingatkan bahwa hadits mursal sudah tidak berlaku lagi apabila sudah ada hadits yang maushul.
6. Ada hadits-hadits yang bertentangan tentang hadit itu mauquf dan marfu’, maka penyelesaian al-Bukhori sama dengan kasus hadit maushul dan hadit Mursal diatas.
7. Sebagian perawi-perawi hadits-hadits menamabah seseorang dalam isnadnya dan sebagian perawi-perawi yang lain menguranginya, maka al-Bukhori menampilkan hadits-hadits itu dengan dua jalur, kalau dikira sahih menurutnya bahwa si perawi itu benar-benar mendengar dari gurunya yang menceritakan dari orang lain, kemudian dia bertemu dengan si perawi tadi lalau meriwayatkan hadits itu, maka al-Bukhori meriwayatkan hadits-hadits itu dengan dua jalur.
8. Kadang-kadang al-Bukhori menampilkan hadits mu’an’an, kemudia menampilkanya lagi dari jalur berbeda untuk menjelaskan bahwa si perawi tadi mendengar langsung dari gurunya, menurut ketentuan yang sudah ditetapkan dalam syarat-syarat bertemu guru (liqa’) dalam hadits Mu’an’an. inilah contoh-contoh pengulangan satu matan hadits sekali, atau lebih.
Halaman 140
9. Kalau masalah pemotongan matan hadits dalam beberapa bab dan meringkasnya dalan bab lain itu disebabkan beberapa hal. diantaranya:
a. Kalau matan itu pendek atau ada kaitan antara satu dengan yang lain, kadang berkaitan dua hukum atau lebih, maka al-Bukhori mengulangi hadits itu sesuai kebutuhanya, dengan tujuan tidak menghilangkan manfaat dan faidah kehaditsan kalu tidak disebutkan, yaitu menerima hadits itu dari gurunya selain gurunya yang pertama, maka manfaatnya adalah banyaknya jalur-jalur dari hadits itu.seperti penjelasan yang lalu.
10. Kadang-kadang al-Bukhori agak rumit dan mentakhrij hadits, kalau dikiranya Cuma ada satu jalur saja maka dibiarkan saja demikian kemudian menampilkanya dalam satu tempat berupa hadits maushul dan ditempat lain berupa hadits mu’alaq.
11. Kadang-kadang al-Bukhori menampilkan hadits dalam kondisi lengkap dan Kadang-kadang meringkas dan hanya menyebutkan penggalan yang dibutuhkanya saja. para ulam pensyarah hadits- hadits al-Bukhori menjelaskan bahwa al-Bukhori berkata: pada dasarnya saya tidak ingin memasukkan hadits yang diulangi ini dalam katagori hadits sahih. menurut ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, al-Bukhori tidak ada kesengajaan dalam pengulangan hadits- hadits baik itu matan atau sanad hadits, kalau memamng pengulangan hadits- hadits itu ada tetap sedikit sekali dan terjadi karena tidaj disengaja. kalu realitanya seperti itu maka yang pasti al-Bukhori pengulangan hadits- hadits itu karena ada manfaat yang bisa diambil, kalau tidak ditemukan ada manfaat baik itu matan atau sanad hadits maka kemungkinan pengulangan itu karena ada perubahan hukum yang menyangkut penjelasan yang kedua secara pasti, bagaimana mungkin al-Bukhori mengosongkanya dari manfaat kesanadan yaitu ada tajhrij hadits dari guru kedua selain guru yang pertama, atau tujuan-tujuan yang lain yang telah dijelaskan didepan, inilah penjelasan bagi calon pembaca yang akan mendalami kitab sahih  al-Bukhori.
Halaman 141
b. Pengulangan Hadits menurut imam Muslim
            Imam Muslim menjelaskan manhajnya dalam pengulangan hadits- hadits, menurutnya, kami berpegang teguh pada beberapa sanad hadits dari Rasulullah saw. lalu kami membagi menjadi tiga bagian dan tiga tingkatan perawi-perawi hadits-hadits, tanpa pengulangan selain di tempat yang  dibutuhkan pengulangan karena ada penambahan arti, atau dari sisi isnad hadits karena ada illat karena penambahan arti dalam sebuah hadits yang benar-benar dibutuhkan sama posisnya dengan hadits yang sempurna. maka suatu keniscayaan bagi kami, kata Muslim untuk mengulangi beberapa hadits, dan akan kami perinci dan perjelas arti tersebut dari hadits jika mungkin secara ringkas, akan tetapi  perincian dan perjelasan arti tersebut secara gelobl agak sulit. maka mengulangi beberapa hadits sesuai bentuknya jika sulit dan rumit, tidak ada masalah dan tida akan ada efek apapun.
            Klau kami temui pengulangan yang tidak ada manfaatnya maka insyaallah kami tidak ada kesengajaan, inilah manhaj Imam Muslim dalam pengulangan hadits- hadits, sepertinya lebih dekat dengan manhaj gurunya, yaitu al-Bukhari, Cuma perbedaanya antara keduanya adalah: kalau al-Bukhari mengulangi beberapa hadits dalam bab-bab yang bebeda-beda secara dominan, kalau Imam Muslim mengulanginya dalan babnya saja, pada dasarnya Pengulangan Hadits dalam keduanya Cuma lahiriyah saja, secar eseni tidak ada Pengulangan, Karen keduanya mengulangi Hadits karena ada perbedaan dalam sanad dan matanya, atau karena ada manfaat yang baru, seperti yang telah dijelaskan didepan oleh al-Hafidz Abul-Fadlol,, Muhammad bin Thohir al-Muqaddisiy.

Halaman 142

PEMBAHASAN II
PENGULANGAN HADITS DALAM KITAB-KITAB
ABUDAUD, AL-TIRMIDZIY DAN AL-NASA’I
1. Pengulangan Hadits menurut imam Abu Daud,
            Abu Daud menjelaskan manhajnya dalam pengulangan hadits-hadits, menurutnya, kalau saya mengulangi sebuah hadits dalam bab maka itu dua atau tiga sebab, kemungkinana kaena ada tambahan pembahasan dalam hadits itu atau ada kalimat tambahan dalam beberapa hadits, inilah sebab kenapa Abu Daud mengulangi hadits yaitu karena ada kaitan periwayatan dengan makna-makana tambahan, kenyataanya Abu Daud mengantarkan riwayat yang kedua dengan sempurna apa bila ada perbedaan hukum dengan periwayatan yang kedua. kalau perbedaan dalam satu kalimat saja maka dia akan menyebut dalam periwayatan yang kedua satu kalimat itu saja setelah menjelaskan isnadnya.
2. Pengulangan Hadits menurut imam al-Tirmizdi
            Menurut Dr, Nuruddin Atr, imam al-Tirmizdi sangat hati-hati dalam Pengulangan Hadits, dan dia tidak pernah mengulangi hadits kecuali sedikit sekali, sehingga hamper tidak diketahui kalu ada Pengulangan Hadits kalau belum diteliti, al-Tirmizdi tidak mengulangi hadits seperti halnya al-Bukhari, paling banyak mungkin Cuma tiga atau empat  Pengulangan, al-Tirmizdi bukan tidak mengakui adanya manfaat dengan adanya Pengulangan seperti pandangan al-Bukhari, akan tetapi menurut al-Tirmizdi, tanpa diulangpun Hadits-Hadits itu akan terulan sendiri sanad dan matanya. demikianlah memang al-Tirmizdi sangat sedikit dalam masalah ini dan kalau ada Pengulangan maka al-Tirmizdi menjaga perubahan manfaat yang baru dalam matan dan isnad hadits, kadang-kadang sebaliknya.
Halaman 143

3. Pengulangan Hadits menurut imam al-Nasa’i
            Menurut al-Sakhawi, al-Nasa’I dengan segla disiplin ilmu haditsnya sama dengan imam ilmu hadits yaitu al-Bukhori, dari sesi pengambilan hukum yang tanpa membuang satu kalimatpun, dan dalam pengulangan matan-matan hadits dan tujuanya, al-Nasa’I hamper menjiplak atau shopy pastenya al-Bukhori, Contohnya: adalah kisah A’isyah, ketika Rasul keluar dari sisinya,……., al-Nasa’I menampilkan hadits ini dalam bab “ al-amru bi al-istighfar ” (perintah untuk beristighfar) kemudian dia mengulanginya lagi hadits itu dalam bab “ al-ghirah min al-nikah “  dengan sanad dan matan yang sama, Cuma ada penambahab nasab guru-gurunya, ada ringkasan sedikit diakhir matan, dan penambahan dua jalur bagi hadits itu yaitu Syeh ibnu Juraij, selain guru yang disebut pertama.
            Seakan-seakan  al-Nasa’I melanggar kode etik tarjamah dengan dua hukum dan tidak membedakan antara Pengulangan Hadits Cuma babnya saja, jadi meskipun ada Pengulangan Hadits tetapi seakan-akan tidak ada Pengulangan karena yangkedua sama persis dengan yang pertama sekalipun Cuma dalam gurunya saja, dengan tujuan adanya manfaat dalam memilih, Contoh: adalah al-Nasa’I meruntut tarjamah dalam “kitab al-Dlohaya” bab lil “aura’ dan tarjamah bab lilarja’ kemudian tarjamah bab lil ‘Ajfa’, dia menyebutkan dalam tiga bab diatas satu hadits dengan satu jalur, maka manfaatnya adalah kesamaan hukum dalam tiga bab itu.

Halaman 144
            Kadang-kadang al-Nasa’I mengulangi sebuah hadits sama persis dengan hadits pertama, dan Kadang-kadang juga antara dua tajamah secara umum Cuma ada selisih sedikit sekali, dan tidak ada penambahan yang berarti seperti yang diisyaratkan, Contohnya seperti tarjamah (penjelasan) al-Nasa’I,  dalam kitab “al-miyah” dengan air laut dan dalam kitab “al-thaharah bi al-Wudlu’” dengan air laut juga dengan satu hadits yang sama persis sanad dan matan, dan Kadang-kadang al-Nasa’I menambah penjelasan dalam salah satu tempat, menyempurnakan dan menyebutkan urutan perawi-perawi yang sebelumnya tidak disebutkan.
            Kadang-kadang al-Nasa’I menampilkan dalam dua tempat dengan satu hadits dan jalur satu pula, untuk menambah mendalam bagi pelajar dalam memahami matan hadits tersebut, seperti keputusanya dalam berwudlu’ dengan air salju dengan dua penjelasan kemudian  al-Nasa’I menyebutkan alasanya dengan dasar satu hadits dan satu jalu pula,  kemudian dalam bab “al-thaharah” al-Nasa’I berpegang pada satu penjelasan dalam berwudlu’ dengan air salju dan air dingin, dan menampilkan satu hadits dengan dua jalur, Kadang-kadang juga al-Nasa’I Cuma mengulang babnya saja tanpa mengulang matan hadits, ini lebih mudah dari yang diatas menurut aktivis hadits.





Halaman 145
FASAL V
MANHAJ MUHADDITSIN DALAM MENJELASKAN JALUR-JALUR HADITS DAN MERINGKASNYA
            Pada dasrnya mentakhrij hadits denga isnad-isnadnya haruslah disendirikan tiap-tuap hadits dengan periwayatan baik itu sanad atau matnya, karena hadits apa bila jalur sanadnya banyak dan berbeda-beda satu perawi denganperawai yang lain, atu matanya banyak dan berbeda-beda satu kata dengan yang lain maka tiap-tiap hadits itu adalah bernam hadits secara mandiri, dengan demikian satu hadits dengan banyak jalur isnad dan matan bagaikan lima, sepuluh bahkan duapuluhhadits atau diatasnya. menurut Abu Hatim al-Raziy, kalau kami tidak menulis hadits kurang dari enmapuluh jalur maka kami tidak bisa mengerti hadits ini, Yahya bun Mu’in berkata: kalau kami tidak menulis hadits kurang dari limapuluh jalur maka kami tidak bisa mengetahuinya.
             Dasar inilah yang diambil oleh imam al-Bukhari, Muslim Abu Daud, al-Tirmizdi dan al-Nas’I, akan tetapi para imam-imam itu dalam perjalanan berikutnya disebabakan sangat panjang dan luas dalam pembahasan jalur-jalur isnad, maka para imam-imam itu kemudian mencri metode lain dengan tujuan meringkasnya, diantara metode-metode itu adalah:
Halaman 146
PEMBAHASAN I
 AHLI HADITS MENGABUNG URUTAN RUWAT
DAN BERMUHAWALAH (MENGALIHKAN) UNTUK MERINGKAS
1. AHLI HADITS MENGABUNG URUTAN RUWAT
            Para imam-imam ilmu hadits apa bila ingin mentakhrij hadits mereka berlandasan pada dua jalur atau lebih, mengumpulkan guru-gurunya kadang-kadang memakai hurufa athaf wawu hal tersebut dilakukan karena tujuan meringkas dan tidak adanya pengulangan juz yang bersekutu dari isnad dengan sempurna. pengumpulkan guru-guru seperti ada dalam kitab sahih al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizdi dan al-Nas’I, Cuma yang paling banyak adalah imam Muslim, akan kami jelaskan contoh-contohnya berikut ini:
1. al-Bukhari berkata: bercerita kepada kami, Ahmad bin Yunus dan Musa bin Ismail, mereka berkata: bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa’ad,……..
2. Muslim berkata: bercerita kepada kami, Muhammad bin al-Rayyan dan ‘aun bin Salam, mereka berkata: bercerita kepada kami, Muhammad bin Thalhah,…….
3. Abu Daud berkata: bercerita kepada kami, ustman dan Abu Bakar, keduanya putra Syaibah, mereka berkata: bercerita kepada kami Umar bin Sa’ad,……..
4. al-Tirmizdi berkata: bercerita kepada kami, Qutaibah, Hannad, dan Mahmud bin Ghailan, mereka berkata: bercerita kepada kami Waki’,…..
5. al-Nas’I, berkata: Mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan , Qutaibah bin Sa’id dari Jarir,…… 
Halaman 147
2. AHLI HADITS BERMUHAWALAH (MENGALIHKAN ISNA HADITS)
            Para imam-imam ilmu hadits metode yang dipakai dalam bemuhawalah (mengalihkan isnad hadits) sama halnya dengan mengumpulkan guru-gurunya memakai hurufa athaf wawu, dengan memakai huruf yang menaandakan adanya pengalihkan isnad hadits dari satu isnad keisnad yang lain yaitu memakai hruf  “ha’” yang paling banyak memakai muhawalah adalah imam Muslim. sasaran dari muhawalah sendiri adalah adanya ringkasn isnad-isnad hadits dalam perawi tertentu agar tidak terjadi pengulangan nama-nama yang sama diantara isnad-isnad hadits itu.
            Ditempat muhawalah itu diletakkan “ha’” pengalihkan isnad hadits, disaat seorang  perawi mendapatkan isnad-isnad itu, disitulah lingkaran pusat mentakhrij hadits, dan kadang-kadang “ha’” pengalihkan isnad hadits itu diletakkan setelah menyebut sebagian dari matan hadits yaitu ditempat permulaan adanya perbedaan periwayatan. maksud kami dengan kata: diletakkan “ha’” pengalihkan isnad hadits, disaat seorang  perawi mendapatkan isnad-isnad it”, apakah sebelum menyebut seorang perawi atau setelahnya? jawabanya adalah: adalah kebiasaan imam Muslim saja yang menempatkan “ha’” pengalihkan isnad hadits sebelum menyebut seorang perawi disaat Muslim mendapatkan isnad-isnad itu, apa bila sighat (bentuk) periwayatanya sama dan menempatkan “ha’” pengalihkan isnad hadits setelah menyebut seorang perawi kalau  sighat (bentuk) periwayatanya tidak sama, sighat (bentuk) periwayatan adalah:  “haddatsana”, “akhbarana”, “anba’ana” atau memakai “an” atau kata lain yang sudah dibahas dalam materi kuliah al-tahammul wa al-ada’.
Halaman 148
contoh-contohnya berikut ini:
1. al-Bukhari berkata: bercerita kepada kami, Muhammad bin’Ubaidah, bercerita kepada kami, Isa bin Yunus dari Ubaidillah dari Nafi’ dari ibnu Umar bahwa Nabi memberi keringanan pada ahl al-siqayah….,  kemudian al-Bukhari menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain, yaitu: bercerita kepada kami, Yahya bin Musa, bercerita kepada kami, Muhammad bin Abu Bakarm, memberi kabar kepada kami, ibnu Juraij, memberi kabar kepadaku Ubaidillah dari Nafi’ dari ibnu Umar bahwa Nabi memberi ijin kepada ahl al-siqayah…., kemudian al-Bukhari menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain lagi, yaitu: bercerita kepada kami, Abdullah bin Numair, bercerita kepada kami bapakku, bercerita kepada kami, Ubaidillah, dia berkata: bercerita kepadaku Nafi’ dari ibnu Umar bahwa Abbas ra. meminta ijin pada Nabi saw. untuk menginap dimakkah dimalam menginap dimina waktu ibadah haji, karena member minuman jamaah haji, maka Nabi saw. memberi ijin kepadanya, hadits ini di tabi’kan (diikutkan) oleh Abu Samah, Uqbah bin Khalid dan Abu Dlamrah.
2. Muslim berkata: bercerita kepada kami, Abu Bakar bin Abi Syaibah, bercerita kepada kami, Waki’ dari Sufyan, disini Muslim menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain lagi, yaitu: bercerita kepada kami, Muhammad bin al-Mutsanna, bercerita kepada kami, Muhammad bin Ja’far, bercerita kepada kami, syu’bah, kedua-duanya dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab, ini adalah haditsnya Abu Bakar, dia berkata: orang yang pertama khutbah hari raya sebelum sholat adalah Marwan, maka ada seseorng berdiri dan bertanya,  sholat sebelum Khutabah, sudah ditinggalkan apa yang menjadi semestinya, maka Abu Sa’id berkata: perkataan ini sudah cukup, aku mendengar Nabi saw. bersabda: “Barang siapa diantara kamu melihat kemugkaran maka rubahlah dengan tanganya, kalau tidak mampu maka dengan perkataanya, kalau tidak mampu juga, maka dengan hatinya, itulah selemah-lemhanya iman”
            Perhatikanlah bahwa perawi hadits yang menjadi penghubung antara kedua sanad diatas adalah Qais bin Muslim, dua periwayatanya pun memakai kata  “an” dari dia adalah Sufyan dan Syu’bah, disitulah sighat (bentuk) periwayatanya sama yaitu “an” maka Muslim menempatkan “ha’” pengalihkan isnad hadits sebelum menyebut seorang perawi yaitu Qais bin Muslim.
            Muslim berkata:dalam hadit yang menjelaskan sifta-sifat orang munafik, bercerita kepada kami, Abu Bakar bin Abi Syaibah, bercerita kepada kami, Abdullah bin Numair, disini Muslim menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain, yaitu: dan bercerita kepada kami Abdullah bin Numair, bercerita kepada kami bapakku, bercerita kepada kami al-A’masy, Muslim menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain lagi, yaitu: dan bercerita kepada kami Zuhair bin Harab, bercerita kepada kami Waki’, bercerita kepada kami Sufyan dari al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin Umar, dia berkata: bersabda Nabi saw…….
            Perhatikanlah bahwa perawi hadits yang menjadi penghubung antara kedua sanad diatas adalah al-A’masy, sighat (bentuk) periwayatanya berbeda, sekali mengatakan: “haddatsana al-A’masy”, kadang “an” al-A’masy, maka Muslim menempatkan “ha’” (pengalihkan isnad hadits) setelah menyebut seorang perawi yaitu al-A’masy.
Halaman 150
3. Abu Daud berkata: bercerita kepada kami, bercerita kepada kami Ibrahim bin Khalid, bercerita kepada kami Aswad bin Amir, bercerita kepada kami Syarik, disini Abu Daud menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain, yaitu: dan bercerita kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Makharramiy, bercerita kepada kami Syarik bin Waki’ dari Ibrahim bin Jarir dari al-Mughirah dari Abi Zar’ah dari Abu Hurairah, dia berkata, “Nabi saw. kalu pergi ke WC. saya membawakanya satu bag atau ember air laul beliau bersuci dengan airi tu”, Abu Daud menaambah dalam hadist yang melalui Waki’: “Kemudia belia menggosok-gosokkan tangan ketanah, lalu saya membawakanya air lagi yang dipakai berwudlu’ oleh beliau”, kata Abu Daud, hadits Aswad bin Amir lebih sempurna.
4. al-Tirmizdi berkata: bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id, bercerita kepada kami Abu ‘Awanah dari Sammak bin Harab, disini al-Tirmizdi menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain, yaitu: bercerita kepada kami Hannad, bercerita kepada kami Waki’ dari Isra’il dari Ma’shab bin Sa’ad dari Ibnu Umar dari Nabi saw. beliau bersabda: “tidak diterima shlat tanpa bersuci dan sedeqah yang keterlaluan”, dalam haditsnya Hannad berkata: “illa bi thahurin” bukan “bila thahurin”
5. al-Nas’I, berkata: Mengabarkan kepadaku Harun bin Abdullah, dia berkata:  bercerita kepada kami Ma’an dia berkata:  bercerita kepada kami Malik, sampai disini al-Tirmizdi menempatkan kata “ha’” dan menyebut isnad yang lain, yaitu: al-Harits bin Miskin membaca hadits, saya mendengarnya dari ibnu al-Qasim dia berkata: bercerita kepadaku Malik dari Nafi’ dari ibnu Umar dia berkata: Di zaman Nabi saw. laki-laki dan wanita-wanita berwudlu’ semua.