DIALOG DENGAN SEDULUR PAPAT LIMO PANCER
Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi wa
barokatuh.......
Sahabat, SELF TALK atau DIALOG BATHIN adalah sesuatu yang positif dan alamiah.
Dan bagi yg sudah terbiasa melakukan meditasi, maka beberapa bagian diri (Part
atau Ego State) yg mewakili perilaku tertentu atau sifat tertentu kita akan
muncul dan menampakkan diri. Dan anda tidak perlu mengaitkan ini dengan ajaran
Sedulur papat limo pancer dan lain-lain. Karena bagian diri kita ini bisa
berjumlah puluhan, dan tidak hanya satu ataupun dua. Dan ini adalah sesuatu
yang alamiah, jadi anda tidak perlu terjebak kepada praktek mistik yang tidak
jelas dalam hal ini.
Sebetulnya kita banyak melakukan Self talk (dialog dengan diri sendiri)
sepanjang hari. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita melakukan “dialog diam” ini
sebanyak 50.000 kali dalam sehari. Self talk memiliki efek langsung terhadap
pikiran dan perilaku kita.
Self talk adalah dialog internal (atau kadang juga monolog) yang kita lakukan
dengan diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi tertentu.
Apa yang “secara diam-diam” kita katakan kepada diri sendiri mengenai sebuah
kejadian akan memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri kita. Selftalk
dapat mengubah apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling kita, apa yang kita
rasakan, dan apa yang kita ingat ketika meninjau kembali pengalaman hidup kita.
Self-talk bertujuan mengontrol, mensinergikan dan mengharmoniskan alam pikiran,
emosi, kehendak dan alam perilaku kita, serta berdamai dengan diri sendiri.
Sering alam pikiran, emosi dan keinginan kita bertolak belakang, sehingga perlu
di adakan sebuah RAPAT INTERN di antara perilaku yg ada di dalam diri kita.
Sehingga diperoleh solusi yg tepat dan memberdayakan diri kita....
Sahabat, mungkin kita mudah untuk berdamaii dengan orang lain. Tetapi terkadang
lebih sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Bila hal itu yg terjadi, Maka
lakukanlah SELF TALK untuk berdamai dengan diri sendiri.....
SELF TALK (DIALOG DIRI) POSITIF
Bagaimana Anda Berdialog Dengan Diri
Anda Akan Menentukan Keberhasilan Anda!
Sebetulnya kita banyak melakukan Self talk (dialog dengan diri sendiri)
sepanjang hari. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita melakukan “dialog diam” ini
sebanyak 50.000 kali dalam sehari. Self talk memiliki efek langsung terhadap
pikiran dan perilaku kita.
Self talk adalah dialog internal (atau kadang juga monolog) yang kita lakukan
dengan diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi tertentu.
Apa yang “secara diam-diam” kita katakan kepada diri sendiri mengenai sebuah
kejadian akan memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri kita. Selftalk
dapat mengubah apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling kita, apa yang kita
rasakan, dan apa yang kita ingat ketika meninjau kembali pengalaman hidup kita.
Pernahkah anda mendengar tentang self fulfilling prophecy (ramalan yang
mewujudkan dirinya sendiri)? Self-talk mirip dengan self-fulfilling
prophecy—dimana apapun yang paling sering dan paling banyak kita pikirkan,
cenderung akan terwujud nyata.
Ketika self-talk kita positif – “Segalanya akan berjalan lancar,” “Saya
yakin bisa mendapatkan pekerjaan ini”— maka kita sebenarnya sedang mengarahkan
diri menuju sukses, dan kemungkinan sukses itu ada untuk kita. Karena kita
memerintahkan alam bawah sadar untuk menyediakan segala sumber daya di dalam
diri kita untuk sukses.
Ketika self-talk kita negatif — “Keadaan pasti akan menjadi kacau
balau,” “Saya tidak yakin bisa menjadi seorang supervisor yang baik” — maka
kita sebenarnya sudah menyerah, dan besar kemungkinan kita tidak akan sukses.
Karena kita telah memerintahkan alam bawah sadar kita untuk melewatkan segala
kesempatan dan kemungkinan untuk berhasil.
Self-talk akan mengarahkan pikiran dan perilaku kita. Bila kita berpikir, “Saya
yakin bisa mendapatkan pekerjaan ini,” maka kita akan berusaha untuk
mendapatkannya. Selama proses interview, kita akan menunjukkan keyakinan diri
dan kemampuan kita, dan karena itu kemungkinan bagi kita untuk diterima juga
lebih besar.
Namun bila kita mengatakan pada diri kita sendiri, “Lamaran saya pasti akan
ditolak,” maka besar kemungkinan kita tidak akan berusaha untuk menunjukkan
keyakinan dan kemampuan diri kita, dan karena itu, lamaran kita pun ditolak.
Maka, sangatlah penting untuk “menulis kembali naskah” self-talk kita yang
negatif menjadi positif. Seperti menghapus “rekaman” mental yang biasanya kita
putar ketika menghadapi tekanan, dan menggantikannya dengan “rekaman” yang
baru.
Ada beberapa pola berpikir yang sering kita miliki, khususnya pola yang
negatif, yakni:
1. Pola Pikir Hitam Putih (Kalau kita tidak sukses sempurna, berarti kita
adalah pecundang sempurna!)
- Saya berasal dari kota kecil,
dan semua orang disini dari kota yang lebih besar. Bagaimana mungkin saya
bisa bersaing dengan mereka.
- Oke, sekarang giliran saya.
Saya harus menunjukkan kepada mereka betapa hebatnya saya.
2. Pola Pikir Katastrophik
(Membesar-besarkan signifikansi sebuah kejadian!)
- Ini moment yang paling
memalukan sepanjang hidup saya!
- Tidak pernah ada orang yang
menghina saya sedemikian rupa seperti yang baru saja dia lakukan!
3. Pola Pikir Pesimistik (Hanya
melihat dari sisi negatif dan membayangkan yang terburuk!)
- Saya tidak pernah punya teman
baik sebelum ini. Apa yang membuat saya mengira saya bisa mendapatkannya
sekarang?
- Saya sudah tahu saya tidak
bisa! Buang waktu saja!
4. Self-fulfilling Prophecy
- Begitu mulai makan es krim,
saya tidak bisa berhenti!
- Saya tidak bisa melakukan
aktifitas saya tanpa di dahului dengan secangkir kopi di pagi hari.
5. Pernyataan “Harus” (Dikendalikan
dengan seperangkat peraturan yang kaku!)
- Saya seharusnya lebih banyak
berlatih. Kini kesempatannya sudah hilang.
- Saya tidak boleh makan setelah
jam 6.00 sore, atau seluruh kalori yang saya makan akan menjadi lemak.
6. Pola Pikir “Ini bukan salah saya”
(Mengalihkan tanggung jawab atas tindakan kita)
- Kalau bukan karena dia, saya
pasti dipilih untuk posisi itu.
- Kalau saja saya punya lebih
banyak waktu, saya pasti akan berhasl.
7. Menerka Pikiran Orang
(Mengasumsikan orang berpikir yang buruk terhadap kita!)
- Tidak ada orang yang akan
tertarik dengan pembicaraan saya.
- Lihat.. mereka semua merendahkan
saya.
8. Discounting (tidak bisa menerima
fedback positif!)
- Mau kasih saya nasehat? Dia
pikir dia siapa? Hah?
- Saya tahu, dia hanya pura-pura
memberi masukan. Tapi tujuan sebenarnya adalah mempermalukan saya di
meeting tadi.
9. Pola Pikir Perbandingan (selalu
membandingkan diri dengan orang lain)
- Apapun yang saya lakukan, dia
selalu selangkah lebih maju dibanding saya!
- Ya, kamu bisa karena kamu
memiliki sumber daya yang lebih besar.
Cara untuk memiliki self talk yang positif dan menghilangkan
self talk yang negatif sebetulnya sederhana. Pertama, sadarilah cara kita
berkomunikasi dengan diri sendiri. Bila kemudian kita menyadari bahwa kita
sedang melakukan self talk yang negatif, maka hentikanlah saat itu juga. Segera
katakan pada diri sendiri, “STOP!!”
Kemudian gantilah self talk negatif dengan yang positif. Awalnya, ini mungkin
akan membuat kita merasa sedikit canggung dan aneh. Karena sebetulnya kita
tidak mungkin memilih kata apa yang akan kita ucapkan, bahkan kepada diri
sendiri, karena kata-kata itu keluar begitu saja. Ia adalah kata yang biasa
kita ucapkan. Tapi jangan khawatir. Bila kita terus berlatih, maka cepat atau
lambat kebiasaan yang baru akan menggantikan kebiasaan yang lama.
Semua kebiasaan bisa dipelajari. Awalnya, kebiasaan itu kita bentuk, dan
kemudian ia membentuk kita dan hidup kita. Tapi point yang paling utama adalah
bahwa semua kebiasaan yang kini kita miliki awalnya dibentuk oleh kita sendiri.
Karena itu, kita bisa mengubahnya. Pilihan untuk berubah atau tidak ada di
tangan kita. Dan pilihan itulah yang akan menentukan perjalanan kita menuju
sukses dalam setiap aspek kehidupan kita.
Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri
Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi
hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon
mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan
diri sendiri.
Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State
mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”.
Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi
dengan Part mereka.
Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:
1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak
bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti
orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak
berdasar.
Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part
maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali. Mengapa? Karena perasaan
takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.
Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah
diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan
ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu
Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.
Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak
memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling
berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.
Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program
pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran,
memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief,
sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.
2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya
teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe
sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat)
analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.
Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan
paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang
sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan
udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.
Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat
tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi
dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi
tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan
petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air
yang dikeluarkan ikan paus.
Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar
(theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat
aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah
pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan
cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah
sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila
pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali
informasi yang muncul ke “permukaan”.
Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?
Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah
aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta
melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini
akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus
ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.
3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak
spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”
Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran
bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang
mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental,
materi, atau apa?
Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi.
Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak
seperti yang kita harapkan.
Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat
telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi
(Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang
tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke
Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat
jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.
4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa
berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke
telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap
jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau
berbicara dengan seseorang.
Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan
menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam,
bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.
5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak
bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part.
Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus
melihat wujud Part.
Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang
auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan
perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.
6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk bisa berbicara dengan Part justru akan
menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran
sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam
kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.
7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang
niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan
kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk
mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar
dengan cepat dan efektif.
Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda
perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.
8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika
ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah
tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari
masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu
sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?
Lalu, bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan Part?
Ada tiga cara untuk berkomunikasi.
Pertama, anda hanya menggunakan modalitas auditori atau suara. Caranya
sebenarnya sangat mudah. Coba tutup mata sejenak. Dan dalam kondisi ini
bertanyalah kepada diri sendiri, cukup bertanya di dalam hati, “Siapa nama
lengkap saya?”, dan nantikan jawabannya. Saat anda mendapat jawaban maka
sebenarnya anda telah bisa berkomunikasi dengan Part anda.
Coba tanyakan lagi beberapa hal kepada diri anda sendiri dan nantikan
jawabannya. Dengan anda mengenali cara Part anda berkomunikasi, bisa merasakan
atau “mendengar” suara Part, maka selanjutnya anda bisa melakukan proses yang
sama namun dengan mengajukan pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah
anda.
Cara kedua adalah dengan membayangkan Part ini keluar dari tubuh anda,
tentunya anda membayangkan atau melakukan visualisasi, Part berada di depan
anda, dan selanjutnya anda bertanya kepadanya. Dalam hal ini anda menggunakan
dua modalitas sekaligus yaitu visual dan auditori. Anda melihat bentuk Part dan
mendengar jawabannya.
Cara ketiga adalah dengan hanya menggunakan perasaan. Saat anda bertanya
kepada Part, tidak harus muncul gambar, tidak harus ada suara yang terdengar,
yang penting rasakan “jawaban” dari Part. Cara ini sangat efektif digunakan
oleh orang kinestetik.
Nah, kalau sudah mahir melakukan komunikasi dengan Part maka kita tidak harus
masuk kondisi rileks dulu. Saya paling sering berkomunikasi dengan Part saat
sedang mengendarai mobil. Pada saat ini pikiran sadar saya sedang sibuk
memperhatikan jalan sehingga tidak menganggu proses komunikasi saya dengan
pikiran bawah sadar. Selain itu saya juga menggunakan kesempatan saat meditasi
di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Part. Saat pikiran tenang, hening, dan
rileks, maka saat itu adalah saat yang paling pas dan nyaman untuk
berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau Part.
Namun jangan salah mengerti ya. Saya tidak setiap hari mencari Part untuk
diajak komunikasi. Saya hanya melakukan bila dirasa perlu. Kalau
sedikit-sedikit cari Part, sedikit-sedikit cari Part, cari Part kok sedikit…
eh.. salah, maksud saya kalau terus-terusan cari Part maka ini namanya kurang
kerjaan.
SELAMAT BERLATIH SECARA MANDIRI, SALAM
DAMAI, SALAM PERUBAHAN, & SALAM SUKSES.