Senin, 10 Desember 2012

Wirid Hidayat Jati

Wirid Hidayat Jati

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Wejangan ke-1 Ananing Dhat
Nasehat ke-1 Adanya Dzat
"Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ono Pangeran, anging Ingsun Sajatine Dhat Kang Maha suci anglimputi ing sipat Ingsun, anartani ing asman Ingsun, amratandhani ing af’al Ingsun."
"Sesungguhnya tidak ada apa pun ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu, yang paling awal adanya adalah AKU, sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifatKU, menyertai namaKU, menandakan perbuatanKU."
Nasehat di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada mulanya alam semesta ini tidak ada, semuanya masih sunyi hampa (awang-uwung), yang paling dahulu ada adalah AKU (Allah). Jadi tidak ada sesuatu pun yang mendahului adanya AKU (Allah), dalam ajaran agama Islam biasa disebut bahwa Allah bersifat Qidam (Dahulu tidak ada yang mendahului), dan AKU (Allah) adalah sumber dari segala sesuatu.

Wejangan ke-2 Wahananing Dhat
Nasehat ke-2 Tempat Dzat
"Sajatine Ingsun dhat kang amurba amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji dadi pada sanalika sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning af’al Ingsun kang minangka bebukaning iradat Ingsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratu’lyakin tumuwuh ing sajroning alam adammakdum ajali abadi, Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh idlafi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalarat Ingsun."
"Sesungguhnya AKU (Allah) adalah dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal dari kuasaKU (Allah), di situ telah nyata tanda perbuatanKU yang sebagai pembuka kehendakKU, yang pertama AKU menciptakan Kayu bernama Sajaratulyakin tumbuh di dalam alam yang sejak jaman azali (dahulu) dan kekal adanya. Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atulhayai, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, lalu Lentera (damar) bernama ‘Kandil’, lalu Permata (sesotya) bernama Darah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. Itu sebagai tempat kekuasaanKU (Allah)."
Nasehat di atas menunjukkan pada kita bahwa AKU (Allah) merupakan dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan satu sabda saja yaitu KUN, maka seketika jadi (FA YAKUN), semua ciptaannya sempurna sebagai pertanda perbuatan (af’al)KU (Allah).
Pertama diciptakan adalah Pohon (kayu) bernama SajaratulYakin, mungkin yang dimaksudkan adalah sajaratulkaun (pohon kejadian) yang merupakan awal dan asal mula penciptaan.
Kedua diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad. Menurut beberapa ahli, nur muhammad ini merupakan bibit alam semesta. Nur Muhammad dimaksudkan adalah bukan sebagai cahaya dari muhammad, nabinya orang Islam, melainkan secara bahasa berarti cahaya yang terpuji, sehingga dikatakan semua ciptaan pasti berasal dari nur muhammad ini, mengandung nur muhammad. Hal itu pula yang mengisyaratkan adanya pemahaman bahwa dalam tingkatan tertentu kebenaran hanyalah satu, adanya ajaran-2 yang berbeda setelah mencapai tahap tertentu ternyata sama belaka, karena bersumber dari dari Cahaya yang terpuji, cahaya kebenaran, yaitu Nur Muhammad.
Ketiga Allah menciptakan Kaca bernama Miratulhayai (Cermin Kehidupan atau Cermin Malu), dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya dapat melihat wujudnya, yang mengakibatkan dirinya bergetar hebat dan berkeringat, dari tetesan keringat inilah makhluk hidup berasal.
Keempat diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi.
Kelima diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil.
Keenam diciptakan Permata diberi nama Darah
Ketujuh diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan halus, yang disebut hijab. Hijab ini sendiri dalam keilmuan banyak jenisnya.

Wejangan ke-3 Kahananing Dat
Nasehat ke-3 Keadaan Dzat
"Sajatine manungsa iku rahsan Ingsun lan Ingsun iku rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin, banyu. Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, nur, rahsa, roh, napsu, budi. Iya iku minangka warananing wajah Ingsun kang maha suci."
"Sesungguhnya manusia itu rahsaKU dan AKU itu rahsanya manusia, karena AKU menciptakan Adam berasal dari empat perkara, bumi, api, angin, air. Itu sebagai perwujudan sifatKU, di sana AKU tempatkan lima perkara, nur, rahsa, roh, nafsu, budi. Itulah sebagai perwujudan wajahKU yang maha suci."
Nasehat ke-3 menerangkan bahwa manusia diciptakan sebagai ‘rahsa’ (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan jawa berbeda) dari Allah, dan Allah itu sebagai ‘rahsa’ dari manusia. Yang dimaksud adalah bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambaranNya atau menurut citraNya, seperti pernah saya kemukakan bahwa pada tubuh manusia tertulis huruf ALLAH, yaitu : (terlihat saat mengangkat kedua tangan, seperti dalam takbiratul ihram, membaca allahu akbar)
alif sebagai garis dari ujung jari tangan kanan turun hingga ke ujung jari kaki kanan,
lam pertama dari ujung jari tangan kanan turun melalui bahu kanan dan naik ke puncak kepala,
lam kedua dari puncak kepala turun melalui bahu kiri dan naik hingga ujung jari tangan kiri,
ha sebagai garis dari ujung jari tangan kiri turun hingga ujung jari kaki kiri.
Dan manusia diciptakan berasal dari empat unsur yang merupakan gambaran sifatNya yaitu bumi, api, angin dan air.
Bumi dalam tubuh kita terwujud pada hal-2 yang bersifat kedagingan, dan dibagi menjadi dua hal yaitu yang merupakan unsur dari bapak berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur dari ibu berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.
Api dalam tubuh menjadikan empat nafsu yaitu aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah.
Aluamah berwatak suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan
Amarah berwatak suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak (bhs jawa : karep)
Supiyah berwatak keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal
Mutmainah berwatak kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (bhs jawa : tarakbrata)
Angin dalam tubuh kita terwujud dalam empat hal yaitu napas, tannapas, anapas dan nupus.
Napas merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan
Tannapas merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung
Anapas merupakan ikatan roh, berpintu di telinga
Nupus merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati puat yang putih yaitu jembatan jantung, berpintu di mata.
Air dalam tubuh menjadikan empat elemen roh yaitu roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.
Roh hewani, menumbuhkan kekuatan badan
Roh nabati menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi
Roh rabbani menumbuhkan rahsa (dzat hamba)
Roh nurrani menumbuhkan cahaya.
Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian Allah menempatkan pula lima hal yaitu dzat hamba (jawa : mudah) sebagai gambaran wajahNya yaitu nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.
Nur, merupakan terangnya cahya, jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi lahir batin
Rahsa, rasa jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menumbuhkan daya ketenteraman di lahir batin
Roh, penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna
Nafsu, kekuatan nafsu jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan kekuatan kehendak yang sentosa
Budi, penciptaan budi jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan daya cipta yang sentosa.
Oleh karena itulah beberapa orang mengatakan bahwa manusia mempunyai sifat-2 Tuhan dan juga mempunyai kesucian wajah Tuhan.

Wejangan ke-4 Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur
Nasehat ke-4 Pembukaan tahta dalam baitulmakmur
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah enggoning paramejang Ingsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun, dhat kang nglimputi ing kahanan jati."
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pestaKU, berdiri di dalam kepala Adam. Yang pertama dalam kepala itu ‘dimak’ yaitu otak, yang ada di antara otak itu ‘manik’ di dalam ‘manik’ itu budi, di dalam budi itu nafsu, di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU, tidak ada Tuhan selain hanya AKU, dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya."
Nasehat ini menyatakan bahwa Allah bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia. Barangkali kalau memakai bahasa orang-2 reiki yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala. Di dalam kepala manusia terdapat otak. Di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-2 sebagai berikut :
Yang pertama ‘manik’
Di dalam manik terdapat budi
Dalam budi terdapat nafsu
Dalam nafsu terdapat suksma
Dalam suksma terdapat rahsa
Dalam rahsa terdapat AKU (Allah)
Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU (Allah), dzat yang meliputi segalanya.

Wejangan ke-5 Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram
Nasehat ke-5 Pembuka tahta dalam baitul mukarram
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning baitalmukarram, iku omah enggoning lelaraning Ingsun, jumeneng ana ing dhadhaningg adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rasa, sajroning rasa iku Ingsun. Ora ana pangeran anaging Ingsun dhat kang anglimputi ing kahanan jati."
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat laranganKU, berdiri di dalam dada adam. Yang ada di dalam dada itu hati, yang ada di antara hati itu jantung, dalam jantung itu budi, dalam budi itu jinem, yaitu angan-2, dalam angan-2 itu suksma, dalam suksma itu rahsa, dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya."
Dalam nasehat ini Allah menyatakan bahwa diriNya bertahta di baitul muharram yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia. Mungkin yang dimaksud adalah cakra jantung. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut :
Pertama hati (kalbu)
Di antara hati terdapat jantung,
Di dalam jantung ada budi
Di dalam budi ada angan-2
Di dalam angan-2 ada suksma
Di dalam suksma ada rahsa
Di dalam rahsa ada AKU
Di atas dikatakan bahwa jantung terdapat di antara hati. Yang dimaksud dengan hati ini bukanlah lever atau hati secara fisik, melainkan hati secara maknawi, karena pada diri manusia ada terdapat lebih dari satu hati, yang menurut keilmuan ada yang namanya hati puat, hati suwedhi, dll.
Kembali di wejangan ke-5 ini ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain AKU (Allah), dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati). Mengapa itu perlu ditegaskan, karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah mendapatkan wejangan ini, jangan sampai karena merasa bahwa AKU (Allah) bertahta di kepala dan di dala manusia, lalu manusia tersebut mengaku dirinya sebagai Tuhan, atau menjadi bagian dari Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka manusia tsb telah jauh tersesat.

Wejangan ke-6 Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas
Nasehat ke-6 Pembuka tahta dalam baitulmuqaddas
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmukadas, iku omah enggoning pasucen Ingsun, jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutfah, yaiku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rasa, sajroning rasa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dhat kang anglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam akadiyat, alam wahdat, alam wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa kang sampurna, yaiku sajatining sipat Ingsun."
"Sesungguhnya AKU bertahta di dalam baitul muqaddas, itu rumah tempat kesucianKU, berdiri di penis/alat kelamin (konthol) adam. Yang ada di dalam penis itu buah pelir (pringsilan), di antara pelir itu nutfah yaitu mani, di dalam mani itu madi, di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali AKU dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dalam nukat gaib, turun menjadi johar awal, di situ keberadaan alam ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, jadinya manusia sempurna yaitu sejatinya sifatKU."
Nasehat ini menyatakan bahwa ALLAH bertahta di baitul muqaddas atau baitul maqdis yang merupakan tempat suciNYA yang berada di alat kelamin manusia yang tersusun atas hal-2 sebagai berikut :
Pertama pelir, yang berisi nutfah atau mani
Madi yang merupakan sari dari mani
Wadi sebagai sari dari madi
Manikem sebagai sari dari wadi
Di dalam manikem ada rahsa
Di dalam rahsa ada AKU.
Di sini disebutkan pula bahwa manusia sempurna adalah sebagai perwujudan sifatNYA dan terbentuk melalui tujuh tahapan alam yang dilaluinya, biasa dikenal dengan istilah martabat pitu atau martabat tujuh yaitu
Pertama alam ahadiyah
Kedua wahdat
Ketiga wahidiyah
Keempat arwah
Kelima misal
Keenam ajsam
Ketujuh insan kamil (manusia sempurna).

Wejangan ke-7 Panetep santosaning iman
Nasehat ke-7 Penetapan iman sentosa
"Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran ananging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun."
"AKU menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dan AKU menyaksikan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusanKU."
Dalam nasehat ini Allah menyatakan kesaksianNya yang ditujukan kepada makhluk ciptaanNya, bahwa tidak ada tuhan lain kecuali hanya Dia semata, dan Muhammad adalah benar-benar rasul atau utusanNya.

Wejangan ke-8 Sasahidan
Nasehat ke-8 Sahadat/kesaksian
"Ingsun anekseni ing Dhat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badan Ingsun, rasul iku rasane Ingsun, muhammad iku cahayaning Ingsun. Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora kerasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodrat Ingsun."
"AKU menyaksikan pada DzatKU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan menyaksikan AKU sesungguhnya muhammad itu utusanKU. Sesungguhnya yang bernama Allah itu badanKU, rasul itu rahsaKU, muhammad itu cahayaKU. AKUlah yang hidup tidak bisa mati, AKUlah yang ingat tidak bisa lupa, AKUlah yang kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKUlah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKUlah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa bijaksana tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)KU."
Nasehat ini merupakan penutup yang berupa sahadat atau penyaksian. Nasehat pertama sampai dengan kedelapan merupakan satu rangkaian yang tidak boleh diputus, sebab jika terputus maka pemahamannya akan berkurang.

Wirid Hidayat Jati untuk Kaum Hawa
"Ing ngandhap punika wonten wirayating guru. Manawi amedharaken rahsaning betal mukadas, ing ngatasipun amejang dhateng tiyang estri wenang kiniyasaken makaten."
"Wirid Hidayat jati pertama tama memang diajarkan pada kaum Adam, lalu selanjutnya ada murid perempuan yang menginginkan wirid ajaran tersebut, maka menurut petunjuk dirubahlah wirid tersebut khusus untuk kaum hawa."
"Ing nalika ingkang maha suci karsa anata malige wonten salebeting betal mukadas, jumeneng ing baganipun siti khawa. punika ingkang wonten salebeting baga, purana."
"Ketika Hyang Maha Suci berkehendak menata di dalam betalmukhadas, maka Dia Jumeneng (berdiri) dalam badan wanita (siti khawa),yaitu di dalam kandungan."
"Ingkang wonten ing ngantawisipun purana, reta: inggih punika mani, salebeting mani, madi, salebeting madi, wadi. Salebeting wadi manikem. Salebeting manikem, rahsa. Salebeting rahsa punika dating Atma, ingkang anglimputi ing kahanan jati."
"Kemudian diantara purana (kandungan?)terdapatlah indung telur (reta), yaitu mani, dalam mani ada madi, dalam madi ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem ada rahsa. Dalam rahsa ini adalah dating Atma, yang berkuasa penuh akan kesejatian."
Jadi sebelum intercouse yang diridhoi Nya yang nantinya akan menjadi manusia, maka kedua belah pihak (laki dan perempuan) merupakan alat sarana Tuhan untuk penciptaan manusia, yaitu dengan kedua belah pihak mendapat Rasa Hyang Tunggal , rasa yang hanya satu, walaupun ujud berbeda dan yang merasakan berbeda pula. Maka dalam Kejawen Hubungan suami istri adalah suci dan merupakan ajaran luhur untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik. Lalu coba dilihat jaman sekarang, adakah yang masih seperti itu, ataukah sudah jauh bergeser.

Referensi

Wirid Hidayat Jati, Karya R.Ng. Ranggawarsita (terbitan Trimurti, ditulis ulang oleh R. Tanoyo – 1954)

Wirid Hidayat Jati

Wirid Hidayat Jati

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Wejangan ke-1 Ananing Dhat
Nasehat ke-1 Adanya Dzat
"Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ono Pangeran, anging Ingsun Sajatine Dhat Kang Maha suci anglimputi ing sipat Ingsun, anartani ing asman Ingsun, amratandhani ing af’al Ingsun."
"Sesungguhnya tidak ada apa pun ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu, yang paling awal adanya adalah AKU, sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifatKU, menyertai namaKU, menandakan perbuatanKU."
Nasehat di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada mulanya alam semesta ini tidak ada, semuanya masih sunyi hampa (awang-uwung), yang paling dahulu ada adalah AKU (Allah). Jadi tidak ada sesuatu pun yang mendahului adanya AKU (Allah), dalam ajaran agama Islam biasa disebut bahwa Allah bersifat Qidam (Dahulu tidak ada yang mendahului), dan AKU (Allah) adalah sumber dari segala sesuatu.

Wejangan ke-2 Wahananing Dhat
Nasehat ke-2 Tempat Dzat
"Sajatine Ingsun dhat kang amurba amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji dadi pada sanalika sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning af’al Ingsun kang minangka bebukaning iradat Ingsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratu’lyakin tumuwuh ing sajroning alam adammakdum ajali abadi, Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh idlafi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalarat Ingsun."
"Sesungguhnya AKU (Allah) adalah dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal dari kuasaKU (Allah), di situ telah nyata tanda perbuatanKU yang sebagai pembuka kehendakKU, yang pertama AKU menciptakan Kayu bernama Sajaratulyakin tumbuh di dalam alam yang sejak jaman azali (dahulu) dan kekal adanya. Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atulhayai, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, lalu Lentera (damar) bernama ‘Kandil’, lalu Permata (sesotya) bernama Darah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. Itu sebagai tempat kekuasaanKU (Allah)."
Nasehat di atas menunjukkan pada kita bahwa AKU (Allah) merupakan dzat yang maha kuasa yang kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan satu sabda saja yaitu KUN, maka seketika jadi (FA YAKUN), semua ciptaannya sempurna sebagai pertanda perbuatan (af’al)KU (Allah).
Pertama diciptakan adalah Pohon (kayu) bernama SajaratulYakin, mungkin yang dimaksudkan adalah sajaratulkaun (pohon kejadian) yang merupakan awal dan asal mula penciptaan.
Kedua diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad. Menurut beberapa ahli, nur muhammad ini merupakan bibit alam semesta. Nur Muhammad dimaksudkan adalah bukan sebagai cahaya dari muhammad, nabinya orang Islam, melainkan secara bahasa berarti cahaya yang terpuji, sehingga dikatakan semua ciptaan pasti berasal dari nur muhammad ini, mengandung nur muhammad. Hal itu pula yang mengisyaratkan adanya pemahaman bahwa dalam tingkatan tertentu kebenaran hanyalah satu, adanya ajaran-2 yang berbeda setelah mencapai tahap tertentu ternyata sama belaka, karena bersumber dari dari Cahaya yang terpuji, cahaya kebenaran, yaitu Nur Muhammad.
Ketiga Allah menciptakan Kaca bernama Miratulhayai (Cermin Kehidupan atau Cermin Malu), dimana ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya dapat melihat wujudnya, yang mengakibatkan dirinya bergetar hebat dan berkeringat, dari tetesan keringat inilah makhluk hidup berasal.
Keempat diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi.
Kelima diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil.
Keenam diciptakan Permata diberi nama Darah
Ketujuh diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan halus, yang disebut hijab. Hijab ini sendiri dalam keilmuan banyak jenisnya.

Wejangan ke-3 Kahananing Dat
Nasehat ke-3 Keadaan Dzat
"Sajatine manungsa iku rahsan Ingsun lan Ingsun iku rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam asal saka anasir patang prakara, bumi, geni, angin, banyu. Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kono Ingsun panjingi mudah limang prakara, nur, rahsa, roh, napsu, budi. Iya iku minangka warananing wajah Ingsun kang maha suci."
"Sesungguhnya manusia itu rahsaKU dan AKU itu rahsanya manusia, karena AKU menciptakan Adam berasal dari empat perkara, bumi, api, angin, air. Itu sebagai perwujudan sifatKU, di sana AKU tempatkan lima perkara, nur, rahsa, roh, nafsu, budi. Itulah sebagai perwujudan wajahKU yang maha suci."
Nasehat ke-3 menerangkan bahwa manusia diciptakan sebagai ‘rahsa’ (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan jawa berbeda) dari Allah, dan Allah itu sebagai ‘rahsa’ dari manusia. Yang dimaksud adalah bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambaranNya atau menurut citraNya, seperti pernah saya kemukakan bahwa pada tubuh manusia tertulis huruf ALLAH, yaitu : (terlihat saat mengangkat kedua tangan, seperti dalam takbiratul ihram, membaca allahu akbar)
alif sebagai garis dari ujung jari tangan kanan turun hingga ke ujung jari kaki kanan,
lam pertama dari ujung jari tangan kanan turun melalui bahu kanan dan naik ke puncak kepala,
lam kedua dari puncak kepala turun melalui bahu kiri dan naik hingga ujung jari tangan kiri,
ha sebagai garis dari ujung jari tangan kiri turun hingga ujung jari kaki kiri.
Dan manusia diciptakan berasal dari empat unsur yang merupakan gambaran sifatNya yaitu bumi, api, angin dan air.
Bumi dalam tubuh kita terwujud pada hal-2 yang bersifat kedagingan, dan dibagi menjadi dua hal yaitu yang merupakan unsur dari bapak berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur dari ibu berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.
Api dalam tubuh menjadikan empat nafsu yaitu aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah.
Aluamah berwatak suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan
Amarah berwatak suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak (bhs jawa : karep)
Supiyah berwatak keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal
Mutmainah berwatak kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (bhs jawa : tarakbrata)
Angin dalam tubuh kita terwujud dalam empat hal yaitu napas, tannapas, anapas dan nupus.
Napas merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan
Tannapas merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung
Anapas merupakan ikatan roh, berpintu di telinga
Nupus merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati puat yang putih yaitu jembatan jantung, berpintu di mata.
Air dalam tubuh menjadikan empat elemen roh yaitu roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.
Roh hewani, menumbuhkan kekuatan badan
Roh nabati menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi
Roh rabbani menumbuhkan rahsa (dzat hamba)
Roh nurrani menumbuhkan cahaya.
Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian Allah menempatkan pula lima hal yaitu dzat hamba (jawa : mudah) sebagai gambaran wajahNya yaitu nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.
Nur, merupakan terangnya cahya, jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi lahir batin
Rahsa, rasa jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menumbuhkan daya ketenteraman di lahir batin
Roh, penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna
Nafsu, kekuatan nafsu jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan kekuatan kehendak yang sentosa
Budi, penciptaan budi jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan daya cipta yang sentosa.
Oleh karena itulah beberapa orang mengatakan bahwa manusia mempunyai sifat-2 Tuhan dan juga mempunyai kesucian wajah Tuhan.

Wejangan ke-4 Pambukaning tata malige ing dalem betalmakmur
Nasehat ke-4 Pembukaan tahta dalam baitulmakmur
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah enggoning paramejang Ingsun, jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun, dhat kang nglimputi ing kahanan jati."
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pestaKU, berdiri di dalam kepala Adam. Yang pertama dalam kepala itu ‘dimak’ yaitu otak, yang ada di antara otak itu ‘manik’ di dalam ‘manik’ itu budi, di dalam budi itu nafsu, di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU, tidak ada Tuhan selain hanya AKU, dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya."
Nasehat ini menyatakan bahwa Allah bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia. Barangkali kalau memakai bahasa orang-2 reiki yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala. Di dalam kepala manusia terdapat otak. Di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-2 sebagai berikut :
Yang pertama ‘manik’
Di dalam manik terdapat budi
Dalam budi terdapat nafsu
Dalam nafsu terdapat suksma
Dalam suksma terdapat rahsa
Dalam rahsa terdapat AKU (Allah)
Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain hanya AKU (Allah), dzat yang meliputi segalanya.

Wejangan ke-5 Pambuka tata malige ing dalem betalmukarram
Nasehat ke-5 Pembuka tahta dalam baitul mukarram
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning baitalmukarram, iku omah enggoning lelaraning Ingsun, jumeneng ana ing dhadhaningg adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rasa, sajroning rasa iku Ingsun. Ora ana pangeran anaging Ingsun dhat kang anglimputi ing kahanan jati."
"Sesungguhnya AKU bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat laranganKU, berdiri di dalam dada adam. Yang ada di dalam dada itu hati, yang ada di antara hati itu jantung, dalam jantung itu budi, dalam budi itu jinem, yaitu angan-2, dalam angan-2 itu suksma, dalam suksma itu rahsa, dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya."
Dalam nasehat ini Allah menyatakan bahwa diriNya bertahta di baitul muharram yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia. Mungkin yang dimaksud adalah cakra jantung. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut :
Pertama hati (kalbu)
Di antara hati terdapat jantung,
Di dalam jantung ada budi
Di dalam budi ada angan-2
Di dalam angan-2 ada suksma
Di dalam suksma ada rahsa
Di dalam rahsa ada AKU
Di atas dikatakan bahwa jantung terdapat di antara hati. Yang dimaksud dengan hati ini bukanlah lever atau hati secara fisik, melainkan hati secara maknawi, karena pada diri manusia ada terdapat lebih dari satu hati, yang menurut keilmuan ada yang namanya hati puat, hati suwedhi, dll.
Kembali di wejangan ke-5 ini ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain AKU (Allah), dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati). Mengapa itu perlu ditegaskan, karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah mendapatkan wejangan ini, jangan sampai karena merasa bahwa AKU (Allah) bertahta di kepala dan di dala manusia, lalu manusia tersebut mengaku dirinya sebagai Tuhan, atau menjadi bagian dari Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka manusia tsb telah jauh tersesat.

Wejangan ke-6 Pambuka tata malige ing dalem betalmukadas
Nasehat ke-6 Pembuka tahta dalam baitulmuqaddas
"Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmukadas, iku omah enggoning pasucen Ingsun, jumeneng ana ing kontholing adam. Kang ana sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutfah, yaiku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rasa, sajroning rasa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dhat kang anglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam akadiyat, alam wahdat, alam wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa kang sampurna, yaiku sajatining sipat Ingsun."
"Sesungguhnya AKU bertahta di dalam baitul muqaddas, itu rumah tempat kesucianKU, berdiri di penis/alat kelamin (konthol) adam. Yang ada di dalam penis itu buah pelir (pringsilan), di antara pelir itu nutfah yaitu mani, di dalam mani itu madi, di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu AKU. Tidak ada Tuhan kecuali AKU dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya, berdiri di dalam nukat gaib, turun menjadi johar awal, di situ keberadaan alam ahadiyat, wahdat, wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, jadinya manusia sempurna yaitu sejatinya sifatKU."
Nasehat ini menyatakan bahwa ALLAH bertahta di baitul muqaddas atau baitul maqdis yang merupakan tempat suciNYA yang berada di alat kelamin manusia yang tersusun atas hal-2 sebagai berikut :
Pertama pelir, yang berisi nutfah atau mani
Madi yang merupakan sari dari mani
Wadi sebagai sari dari madi
Manikem sebagai sari dari wadi
Di dalam manikem ada rahsa
Di dalam rahsa ada AKU.
Di sini disebutkan pula bahwa manusia sempurna adalah sebagai perwujudan sifatNYA dan terbentuk melalui tujuh tahapan alam yang dilaluinya, biasa dikenal dengan istilah martabat pitu atau martabat tujuh yaitu
Pertama alam ahadiyah
Kedua wahdat
Ketiga wahidiyah
Keempat arwah
Kelima misal
Keenam ajsam
Ketujuh insan kamil (manusia sempurna).

Wejangan ke-7 Panetep santosaning iman
Nasehat ke-7 Penetapan iman sentosa
"Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran ananging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun."
"AKU menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya AKU dan AKU menyaksikan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusanKU."
Dalam nasehat ini Allah menyatakan kesaksianNya yang ditujukan kepada makhluk ciptaanNya, bahwa tidak ada tuhan lain kecuali hanya Dia semata, dan Muhammad adalah benar-benar rasul atau utusanNya.

Wejangan ke-8 Sasahidan
Nasehat ke-8 Sahadat/kesaksian
"Ingsun anekseni ing Dhat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badan Ingsun, rasul iku rasane Ingsun, muhammad iku cahayaning Ingsun. Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora kerasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodrat Ingsun."
"AKU menyaksikan pada DzatKU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan menyaksikan AKU sesungguhnya muhammad itu utusanKU. Sesungguhnya yang bernama Allah itu badanKU, rasul itu rahsaKU, muhammad itu cahayaKU. AKUlah yang hidup tidak bisa mati, AKUlah yang ingat tidak bisa lupa, AKUlah yang kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKUlah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKUlah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa bijaksana tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)KU."
Nasehat ini merupakan penutup yang berupa sahadat atau penyaksian. Nasehat pertama sampai dengan kedelapan merupakan satu rangkaian yang tidak boleh diputus, sebab jika terputus maka pemahamannya akan berkurang.

Wirid Hidayat Jati untuk Kaum Hawa
"Ing ngandhap punika wonten wirayating guru. Manawi amedharaken rahsaning betal mukadas, ing ngatasipun amejang dhateng tiyang estri wenang kiniyasaken makaten."
"Wirid Hidayat jati pertama tama memang diajarkan pada kaum Adam, lalu selanjutnya ada murid perempuan yang menginginkan wirid ajaran tersebut, maka menurut petunjuk dirubahlah wirid tersebut khusus untuk kaum hawa."
"Ing nalika ingkang maha suci karsa anata malige wonten salebeting betal mukadas, jumeneng ing baganipun siti khawa. punika ingkang wonten salebeting baga, purana."
"Ketika Hyang Maha Suci berkehendak menata di dalam betalmukhadas, maka Dia Jumeneng (berdiri) dalam badan wanita (siti khawa),yaitu di dalam kandungan."
"Ingkang wonten ing ngantawisipun purana, reta: inggih punika mani, salebeting mani, madi, salebeting madi, wadi. Salebeting wadi manikem. Salebeting manikem, rahsa. Salebeting rahsa punika dating Atma, ingkang anglimputi ing kahanan jati."
"Kemudian diantara purana (kandungan?)terdapatlah indung telur (reta), yaitu mani, dalam mani ada madi, dalam madi ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem ada rahsa. Dalam rahsa ini adalah dating Atma, yang berkuasa penuh akan kesejatian."
Jadi sebelum intercouse yang diridhoi Nya yang nantinya akan menjadi manusia, maka kedua belah pihak (laki dan perempuan) merupakan alat sarana Tuhan untuk penciptaan manusia, yaitu dengan kedua belah pihak mendapat Rasa Hyang Tunggal , rasa yang hanya satu, walaupun ujud berbeda dan yang merasakan berbeda pula. Maka dalam Kejawen Hubungan suami istri adalah suci dan merupakan ajaran luhur untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik. Lalu coba dilihat jaman sekarang, adakah yang masih seperti itu, ataukah sudah jauh bergeser.

Referensi

Wirid Hidayat Jati, Karya R.Ng. Ranggawarsita (terbitan Trimurti, ditulis ulang oleh R. Tanoyo – 1954)

Cahaya Dzikir

Cahaya Dzikir
Sebuah peradaban maju kerap kali, membawa dampak negatif dalam pribadi seseorang, lebih-lebih lingkungan dan peradaban manusia itu sendiri.
Manusia sering kali terjebak dalam sebuah arus praktisisme. Artinya banyak diantara orang melihat sesuatu yang praktis itu adalah sebuah keharusan. Hingga klimaksnya orang-orang bisa melupakan suatu yang sakral sekalipun.
Semisal sholat dalam kesehariannya bisa 5 kali kita lakukan. Kalau hal ini saja bisa mereka tinggalkan, maka mereka kehilangan sebuah permata kehidupan, yang seharusnya mereka pertahankan. Karena parameter seorang muslim adalah sholat itu sendiri. Sedangkan khusuk itu adalah ruh ibadah itu, sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Ghazali pada setiap rukun sholat.
Bagaimana seorang muslim mampu mengaplikasikan "ruh ibadah" itu ? maka ada banyak variabel yang bisa mendukung untuk terjadinya prosesi khusuk. Pertama seorang muslim haruslah beriman kepada Allah dan RasulNya. Mengimani semua rukun iman, selain yang tersebut diatas. Kemudian masing-masing muslim haruslah belajar agama dan minimal menerapkan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya ruh adalah sebuah hal abstrak yang berkaitan langsung dengan manusia dan bersandar pada qudratillah. Maka Allah dalam telah memproklamirkan didalam Al-Quran: "kullirruhu min amri robbi", ruh itu adalah urusan Allah. Maka hal inilah yang harus difahami oleh umat, ketika ruh yang melekat pada diri kita tertutupi oleh kepentingan-kepentingan jasad (syahwat,sandang, pangan).
Ruh itu diklaim sebagai makhluk yang mentaati perintah Allah. Karena di alam ruh, masing-masing kita telah mengenal satu sama lain. Tentunya di alam ruh, kita sangat dekat dengan Allah. Sampai predikat kita saat itu adalah ma'rifatullah. Karena komposisi kita saat itu, ruh saja, tanpa ada kehadiran jasad, akal, serta hawa nafsu.
Al-Imam Shekh Abdul Qadir Jailani, dalam kitabnya Al-Ghunyah mengklasifikasikan beberapa penghuni jasad manusia. Artinya dalam diri manusia ada beberapa khotir/pembisik yang menghuni dan berpeluang mempengaruhi tingkah laku manusia. Atau dalam gambaran sketsa hati itu terbungkus dengan beberapa lintasan hati. Sehingga nur robbany selalu terhalangi dengan beberapa lintasan yang tidak sinergis (sejenis). Ada beberapa macam tipe khotir telah diklarifikasi oleh beliau, antara lain khotirulyaqin(bisikan dari Allah), khotir ruh(bisikan Ruh),khotirul muluk(bisikan Malaikat), khotirul aql(bisikan Akal), khotirunnufs(bisikan nafsu), khotirussyaiton(bisikan syaithon). Ada kecenderungan orang bisa selamat amalnya, jika dia bi$a meminimalisir ruang gerak khotir nafsu dan khotir syaithon.
Dalam Al-Quran menawarkan konsep khusu' dan sebanyak 5 kalimat khosyi'in disebut dalam Al-Quran dan diredaksikan dalam konteks yang berbeda, mengikuti korelasi (hubungan) ayat. Salah satu redaksi ayat itu berbunyi : "Wasta'inu bisshobri washolati, wainnaha lakabirotun illa 'alal khosyi'ien". Ayat ini menggambarkan betapa shalat adalah sebuah konklusi (jalan keluar) tepat untuk permasalahan umat. Artinya sholat adalah rangkaian dari tashbih, tahlil, takbir, dzikir, dan shalawat atas Nabi Muhammad Saw, serta rukuk dan sujud. Rangkaian ini semua adalah sebuah alat untuk mencapai kekhusukan, yang merupakan kesinambungan antara jasad dengan hati manusia. Dan rangkaian shalat adalah sebuah suplai makanan untuk ruh yang mendiami jasad kita. Sehingga jelaslah kesinambungan makna ayat : "innasholata tanha 'anil fahsya'i wal munkar", bahwa sholat yang khusuk mampu meminimalisir perbuatan keji dan munkar. Dengan syarat khusu',yaitu kehadiran jasad dan ruh mengesakan Allah dalam setiap rangkaian sholat.

Hati yang Berekstase

Kaum asketis ( sufi) adalah sebuah contoh kaum yang senantiasa berekstase. Ekstase berasal dari kata ecstacy yang artinya sebuah perasaan yang melayang-layang karena dorongan rasa gembira yang sangat. Sehingga dalam ejaan bahasa kita menjadi ekstase yang menyerap kata berbahasa Inggris. Sedangkan aplikasinya kaum asketis (sufi) sangat erat dengan hal ini.
Dalam sebuah buku karangan Javad Noorbach yang diterjemahkan dengan judul "psikologi sufi", menanggapi sebagian gaya hidup kaum asketis, namun di akhir analisanya ia mengambil sebuah pernyataan bahwa para sufi telah menanggalkan kebiasaan manusiawinya, sehingga sedikit lebih identik dengan sifat malaikat yang mendominasi kegiatannya dengan beribadah. Ini sebuah prestasi luar biasa dihadapan Allah Ta'ala dan Rasulnya. Sebaliknya manusia yang senantiasa mengumbar nafsunya, maka dia turun pada derajat hewan. Sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan.
Akan tetapi mereka (para kaum Asketis) tetap saja sebagai manusia, yang konon dalam hembusan nafas bisa ratusan kali melafadzkan lafdzul Jalalah. Ketika itu terjadi, coba bayangkan sedahsyat efek biologis yang dirasakan tubuhnya. Karena menurut sebagian riwayat Rasulullah pun merasakan panas dingin berhadapan dengan Malaikat Jibril. Atau unta Rasul mengalami kepayahan yang sangat disaat Rasul menerima wahyu diatas punggungnya. Itu sebuah bukti empiris (unsu nyata) betapa dzikir, ayat quran, mampu membuat pressing (tekanan) yang luar biasa terhadap jasad dan naluri manusia.
Inilah bukti kuat bahwa hati dan jasad besar kemungkinan melakukan ekstase lewat dzikir-dzikir, ayat suci, sholawat burdah, beberapa pembacaan maulid dan lainnya. Kesemuanya akan dirasakan ketika orang fokus dan hadir dengan seluruh organ tubuhnya tunduk, bersimpuh melafadzkan bacaan-bacaan tadi secara berulang-ulang, dan merasakan kehadiran Allah sangat dekat dengan dari kita.. Inilah fenomena khudlurul qalb (hadirnya hati) yang dikuti dengan organ-organ lain. Atau fenomena istihdlorul qalb (berusaha menghadirkan seluruh organ tubuh terutama hati) kepada sang Khaliq atau Rasulnya.
Bukti yang dapat kita lihat, ada beberapa diantara kita menangis karena tak kuat menahan daya energik dzikir itu sendiri. Banyak sekali bukti bahwa tubuh dan hati bisa bekerja secara sinergis, berirama bergerak senada dengan lafadz yang diucapkan
Masing-masing dzikir atau bacaan sangat mampu memberikan daya tarik yang berbeda-beda pada diri manusia. Artinya, karakter bacaan itu akan memberikan suatu rasa yang beda dan kondisi jiwa (psikologi manusia) yang kondusif untuk mencapai kenikmatan-kenikmatan rohani yang tidak terbantahkan. Rasullah bersabda : "Ala bidzikrillah tathmainnul quluub". Dengan berdzikir kepada Allah akan membawa pada kedamaian hati. Artinya sebelum menuju hal itu, Allah memberikan fenomena nikmatnya berekstase (mabok) dalam mengingat Allah.

Syarat Berekstase

Berekstase sebenarnya telah memberi nuansa lain dalam diri manusia. Berekstase menggambarkan sebuah perasaan hati yang kalut akan getar-getar makna dzikir, kedalaman hati bermeditase (mengkosongkan apa yang selain Allah), mematikan fungsi otak untuk sementara waktu, memfokuskan pada satu makna terdalam dari lafadz itu sendiri, tidak lebih.
Irama badan yang tergerak oleh pesona ke dalam makna tauhid. Pesona makna tauhid ini bisa diperoleh setelah dalam jiwa seseorang mampu merasa dirinya paling rendah diantara makhluk Allah. Dari benih-benih ketawadluan itu akhirnya berbuah pada sebuah energi yang mempunyai daya yang luar biasa. Ini sebuah fenomena biasa dalam berekstase, jika dia masih dalam alam sadar maka ia bisa betapa besar energi yang muncul dari akibat berdzikir. Jika kemudian dia sudah masuk alam tidak sadar akan dibuka hijab dari lubuk hatinya, melihat fenomena alam Ghaib sebatas yang Allah Kehendaki.
Berekstase merupakan olah raga jiwa yang paling efektif, artinya seseorang bisa mengatur berbagai macam gerakan olah tubuh yang dikomando oleh hati yang berdzikir. Lewat nafas, detak jantung yang berirama mininal 20 kali/menit, adalah sebuah contoh kecil teknik-teknik berekstase yang bisa diterapkan oleh semua kalangan.

Melatih Berekstase

Sebenarnya teknik ekstase sudah banyak kita ketahui di masyarakat muslim kita. Satu contoh ketika dzikir ba'da sholat, kita sering menjumpai orang tergerak badannya, mengikuti nada yang terucap disetiap mulut jama'ah sholat. Namun sebenarnya gerakan itu bukanlah fokus pembahasan teknik berekstase, melainkan hanya sebuah contoh kasus saja.
Berekstase punya dasar-dasar teknik yang bisa mengarahkan kesana. Teknik pertama adalah dzikrul jahr (dzikir dengan keras atau lembut). Teknik ini sudah memasyarakat dari kalangan santri sampai awam. Ketika seseorang memulai dengan dzikir seperti kalimat tauhid la ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah).Seseorang yang melafadzkan kalimah tauhid harusnya tidak mempunyai harapan kecuali mengagungkan Asma dan Dzat Allah. Banyak orang larut dalam dzikir akan tetapi hanya sebuah gerakan mulut saja, banyak dari anggota tubuhnya tidak bisa hadir bersama apa yang dia ucapkan. Untuk itu peran dzikir jahr adalah sebuah langkah awal menuju terpusatnya seluruh anggota badan untuk larut dalam berdzikir.
Teknik kedua adalah dzikir khofi (sirr), yang merupakan olah jiwa. Kemampuan hati untuk berbisik, berbicara terhadap kenyataan yang terjadi di depan mata, mengeluh terhadap tekanan yang dirasakan oleh jasad, adalah sebagian kecil kemampuan hati dalam kesehariaannya.
Seandainya kemampuan itu diarahkan pada hal-hal ruhaniyyah, seperti berdialog berduaan dengan Allah sebagai pemilik jiwa manusia tatkala kita melakukan sholat. karena sholat adalah sebuah ritual tertinggi dalam peradaban manusia, Maka romantisme berekstase akan dirasakan hamba, seperti sabda nabi "waju'ilat qurrata'aini fisholah" Allah memberikan fantasi kenikmatan sholat pada Nabi, melebihi segala macam aktifitas yang lain . Subhanallah... aKetika romantisme dalam sholat tidak berjalan sebagaimana mestinya, artinya romantisme terputus dengan kehadiran pihak lain selain Allah, harusnya manusia cepat sadar, bahwa sholat tidak berarti lagi ketika ada unsur selain Allah dan dirinya masuk dalam ritual suci tersebut. Demikian berlanjut sampai manusia mampu meminimalkan peran-peran diluar konsentrasi badan dan jiwa kita menghadap Allah Subhanu wata'ala.
Teknik ketiga adalah memperbanyak sholat sunnah yang merupakan pemanasan untuk melatih berekstase, ketika dua unsur diatas telah menjiwai dan terterapkap pada jiwa seseorang, niscaya dalam sholat fardlunya akan mendapat kenikmatan lebih.
Ada sebuah analog, tentang teknik berekstase, Al-Maghfurlah Kyai Abdul Hamid Pasuruan, pernah menjawab tentang konsep khusuk yang ditanyakan oleh seorang peziarah, "konsep khusuk itu seperti kita perbedaan kita mengendarai becak, dengan kita mengendarai bus. Pasti bus punya kapasitas penumpang lebih banyak, begitu juga konsep khusuk, disetiap rukun jiwa dan raga bisa menyatu dalam balutan kehadiran pada Dzat Allah yang kita sembah. Artinya intensitas (jumlah) kehadiran kita lebih sering disetiap rukun sholat.".
Demikian berlanjut sampai orang merasakan konsep yang digambarkan Al-Quran dalam surah Qaff ayat 16, "walaqod kholaqnal insaana, wa na'lamu ma tuwaswisu bihi nafsuhu, wanahnu aqrobu ilaihi min hablil wariid".
Analisa tentang ayat ini berbeda-beda, berdasar atas tendensi sumber dan redaksi ayat satu dengan lainnya. Seperti pengarang Tafsir Ibnu Katsir mengartikan bahwa redaksi"nahnu" berarti malaikat Allah, yang dalam hal ini adalah Raqib dan 'Atid.
Jika melihat analisa Imam Suyuthi dan Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli mengartikan ayat itu sebagai tanda (indikasi), Allah sangatlah dekat dengan kita daripada pembuluh nadi yang ada pada leher kita.
Kemudian Imam As-Showi memperkuat indikasi itu dengan memberikan komentar bahwa : "Allah sama sekali tidak memberi penghalang antara jiwa manusia dengan Nur Rabbaniy, lebih dari itu Nur Rabbaniy itu memang bersemayam dalam jiwa manusia. Tidak ada yang menghalangi apapun akan hal ini. Maka kedekatan ini adalah sebuah jalan romantis bagi kehendak Allah berekstase (larut) dengan jiwa-jiwa sholihin yang senantiasa berdetak jantungnya melewati nikmatnya bercumbu dengan Sang Kekasih Allah Azza Wajalla. dasar dengan mengutip pernyataan Al-Imam Qusyairi yang menafsiri ayat "nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid", sebagai dua fenomena yang terlahir dari satu ayat.
Fenomena pertama, ayat ini menggambarkan adanya rasa Keagungan Allah sekaligus ketakutan yang meraja (khauf) seorang hamba pada Allah Azza Wajalla.
Fenomena kedua adalah rasa ketenangan, ketentraman hati, kebahagiaan yang terpancar dari jiwa seseorang hamba pada Allah Ta'ala (Raja).
Dua fenomena itu muncul dari seni interaksi hamba pada Allah Ta'ala. Sehingga Imam Qusyairi memberikan prosentase khauf dan Raja sama-sama 100 %,maka bersatulah Nyala Api Dzikir dengan Samudera Tauhid Allah yang Maha Luas dalam jiwa-jiwa kaum mukmin. * Berbagai Sumber