Selasa, 12 Juni 2012

FADLY


180
Fasal I menjelaskan aneka ragam sub-sub bab dan metodologinya
1. Sub-sub bab dalam Sahih Bukhari dan Muslim
a. Sub-sub bab dalam Sahih al-Bukhari
            al-Bukhari mengklasifikasi kitab Sahihnya mrnjadi 79 Kitab dan tiap-tiap kitab itu terbagi menjadi beberapa bab dan ditiap-tiap bab itu ada title/topic pembahasan terhadap hadit-hadits itu yang bisa diketahui dengan tarjamah/Sub-sub bab.
            sub-sub bab itu beraneka ragam tergantung kejelasan dan kesamarran indikasi yang ditunjukan sub-sub bab terhadap hadit-hadits, menjadi:
1. Sub-sub bab yang jelas, yaitu topic pembahasan dalam bab menjelaskan apa yang terkandung dalam terhadap hadit-hadits itu secara jelas, seorang pembaca tidak membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk mengetahui jalur pengambilan dalil.
2. Sub-sub bab yang samar, atau istinbatiyah, yaitu, seorang pembaca membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk mengetahui jalur pengambilan dalil topic bab terhadap hadit-hadits itu.
3. Sub-sub bab yang lepas, yaitu al-Bukhari cukup menjelaskan topic pembahasan dengan kata “babu” tanpa menerjamahkan sama sekali.
181
            dan al-Bukhari dalam Sub-sub bab yang jelas ataupun Sub-sub bab yang samar, memiliki beberapa metode yang sering digunakan dalam bentuk Sub-sub bab itu, yang dipenuhi dengan ijtihad fiqhiyah yang sulit difahami dan sukar dimengerti oleh akal dan nalar.
            Ibnu Hajar berkata:  kami akan menjelaskan rumus yang mencakup penjelasan aneka ragam sub-sub bab itu yaitu yang yang jelas dan yang samar.
            1. Yang pertama yaitu yang jelas, maka bukan tujuan kami menjelaskanya disini, yaitu sub-sub bab itu harus menunjukkan hal yang sesuai dengan apa yang terkandung didalamnya, dan faidahnya adalah, pemberi tahuan apa yang dibahas dalam bab itu tanpa memberi ungkapan terhadap faidah itu, seaka-akan al-Bukhari berkata: “Inilah bab yang menjelaskan……” atau berkata: “Inilah bab yang menjelaskan dalil hukum…… misalnya”
            Contohnya: al-Bukhari berkata: “Inilah bab yang menjelaskan tanda-tanda keimanan adalah mencintai sahabat ansar” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits Anas ra. yaitu hadits marfu’ “Tanda-tanda keimanan adalah mencintai sahabat ansar dan tanda-tanda kemunafikan adalah membenci sahabat ansar”
            dan dalam sub ini Ibnu Hajar berkata, kadang-kadang sub bab itu dijelaskan dengan “al-Murtajam lahu” (Objek pembahasan), sebagian saja atau dengan artinya saja.
            182
            Contoh sub bab yang dijelaskan dengan “al-Murtajam lahu” (Objek pembahasan) adalah perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan sabda Nabi saw. “ Allhuma ‘allimhu al-kiaba”, kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits ibn Abbas ra. “ rasulullah memelukku dan bersabda “Allhuma ‘allimhu al-kiaba”.
            Contoh sub bab yang dijelaskan dengan sebagian saja adalah perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskanMan yuridi alllahu bihi kharan Yufaqqihu fi al-Din” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits Muawiyah ra. yaitu hadits marfu’ “Man yuridi alllahu bihi kharan Yufaqqihu fi al-Di,…..n lanjutkan sendiri haditsnya”
            Contoh sub bab itu dijelaskan dengan artinya saja adalah perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan bersuka cita dengan ilmu dan hikmah” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits ibn Mas’ud ra. yaitu hadits marfu’ “ La hasada illa fi Istnatain……. lanjutkan sendiri haditsnya bos”
            Maka kata “hasada” disini diartikan bersuka cita inilah yang ditarjamahkan al-Bukhari.
            Dan dari  Sub-sub bab yang jelas ini al-Bukhari kadang-kadang memakai metode “Istifham” (bertanya)
            Ibnu Hajar berkata:  Kebanyakan al-Bukhari memakai Sub-sub itu dengan metode “Istifham” (bertanya), seperti perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan apakah…..? atau “Inilah bab yang menjelaskan apakah orang berkata…..? dll. hal tersebut dilakukan al-Bukhari, apabila tidak ada kepastian dengan salah satu dari dua kemungkinan, tujuanya adalah menjelasakan apakah hukum itu ditetapkan atau tidak, kemudian al-Bukhari menerjamahkan dengan hukum itu dan kemudia ditafsirkan denga penetapanya atau tidak, atau bisa jadi kedua-duanya sama-sama memungkinkan, akan tetapi kadang-kadang salah satunya lebih jelas, tujuanya adalah membiarkan pemikiran tetap jalan dan mengingatkan bahwa disitu ada kemungkinan- kemungkinan atau pertentangan yang wajib menangguhkan kalau diyakini disitu ada kemujmalan (kesamaran) atau objek penelitianya masih diperselisihkan dalam mencari dalil.
183
           
            Contoh sub bab yang jelaskan memakai metode “Istifham” (bertanya) adalah perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan, apakah boleh satu hari ada kajian ilmu  bagiperempuan?”
            Dan dari  Sub-sub bab yang jelas ini al-Bukhari kadang-kadang memakai metode “Iqtibas” (mengutip), maka al-Bukhari mengutip sebuah ayat, hadits atau atsar.
            Ibnu Hajar berkata:  Kadang-kadang al-Bukhari memakai Sub-sub itu langsung dari teks hadits yang tidak memenuhi syarat sahihnya, atau menampilkan bersama  Sub-sub itu atsar atau ayat, seakan-akan al-Bukhari berkata: Dalam bab ini tidak ada satupun hadits yang memenuhi syarat sahih.
            Inilah! daan Dr. Nurudin atr menjelaskan dua metode yang lain dalam masalah Sub-sub bab, yaitu:
            1. Metode peletakan  Sub-sub bab dengan bentuk kabar umum, yaitu Sub-sub bab itu merupakan ungkapan yang menandakan apa yang terkandung dalam bab dengan bentuk khabar yang umum yang memungkinkan beberpa jalur, lalu Sub-sub bab itu menunjukan apa yang dicakup oleh bab itu dengan jalur umum kemudian menentukan tujuan bab itu dengan menyebut hadits bab.
            Contohya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan mengusap sepatu” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits yang menunjukkan disyari’ataknya mengusap sepatu saja, dengan Sub-sub bab umum yang memungkinkan beberapa hal seperti disyari’ataknya mengusap sepatu, cara mengusap sepatu, waktu mengusap sepatu, dll.
184
            2. Metode peletakan  Sub-sub bab dengan bentuk kabar khusus dengan permasalahan bab tanpa ada indikasi adanya kemungkinan-kemungkianan yang lain, Contohnya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan wudu’ beberapa kali” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits ibn Abbas ra. dia berkata: “Nabi saw. berwudu’ beberapa kali”
            Dalam hal ini al-Bukhari kadang-kadang menggabung beberap metode dalam satu Sub bab.
            2. Yang kedua yaitu yang samar
            Salah satu dari metode al-Bukhari adalah apa yang disebutkan Ibnu Hajar yaitu: terkadang al-Bukhari memakai Metode peletakan  Sub-sub bab mengandung kemungkinan-kemungkianan yang lebih satu arti, kemudian ditentukan salah satunya dengan menyebut hadits setelahnya.
            Artinya, al-Bukhari menampilkan  Sub-sub bab dengan corak yang umum, yang mengandung kemungkinan-kemungkianan yang lebih satu arti, kemudian al-Bukhari menjelaskan satu hadits dalam bab yang menjelaskan tujuan dari Sub-sub bab tanpa ada kemungkinan yang lainya.
            Contohya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan kecing dan tempat menyipuhkan kaki unta, hewan-hewan, dan  kambing, ini adalah Sub-sub bab umum yang mengandung kemungkinan yang dimaksud adalah membasuh kencingya, atau memakai kencing itu sebagai obat, atau yang lain.
            Maka al-Bukhari mentakhrij hadits yang menunjukkan tujuan dari sub bab yaitu hadits Ansa ra.  dia berkata: Qadima al-Nasumin ‘Iklin………..tulis dewi bos!
            Ibnu Hajar berkata: kadang ditemukan juga kebalikan diatas, yaitu hadits itu mengandung kemungkinan-kemungkianan kemudian Sub-sub bab menjelaskan tujuan dari hadits tanpa ada kemungkinan yang lainya. Sub-sub bab seperti ini unruk memjelaskan takwil dari hadits itu, posisinya sama dengan perkataan ulam fiqih, misalnya, yang dimaksud dengan hadits ini adalah umum yang khusus, atau khusus yang umum, agar diketahui kalau disana ada illat yang mencakup, atau menunjukkan bahwa kekhususan itu yang dimaksud adalah apa yang lebih umum dari apa yang tunjukan zdahirnya hadit dengan cara lebih tinggi atau lebih rendah, hal itu dibahas dalam bab mutlak, muqayyad, seperti masalah khas dan am, juga dalam menjelaskan hal yang suli, menafsirkan yang samar, takwil yang dzahir, tafsil al-Mujmal, topic iini adalah yang paling sulit dalam masalah sub bab dalam kitab ini. Karena itulah terkenal dikalangan ulama sebuah ungkapan “ fiqih al-bukhari dalam sub-sub babnya.
            Contohnya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan imam membaca amin dengan nyaring” kemudian al-Bukhari mentakhrij hadits Abu Hurairah ra. Hadits marfu’, “ Izda ammana al-Imamu………
            ini adalah sub-sub bab yang khusus imam membaca amin dengan nyaring, dan disitu tidak ada penjelasan yang nyata membaca amin dengan nyaring, dengan catatan bahwa hadits itu memungkinkan kesana, maka disini fungsi sub bab adalah menghilangkan memungkinkan- memungkinkan itu.
            Dan dari  Sub-sub bab yang samar ini al-Bukhari kadang-kadang memakai metode, apa yang disebutkan Ibnu Hajar yaitu: terkadang al-Bukhari memakai Metode menampilkan perkara yang jelas sedikit faidahnya, akan tetapi kalu dipikir dengan jernih maka akan menemukan faidah yang lebih bermanfaat, seperti  perkataan al-Bukhari“Inilah bab yang menjelaskan perkataan seoarng laki-laki dalam hadits azan“ Kami tidak sholat” al-Bukhari member isyarat menolak orang yang mengatakan makruh sholat dwktu azan, contohnya lagi: perkataan al-Bukhari“Inilah bab yang menjelaskan perkataan seoarng laki-laki dalam hadits azan“kami tidak menjwab azan karena sholat” al-Bukhari member isyarat menolak orang yang mengatakan kemutlakan lafal itu, yaitu ibn sirin.
186
            Mnurut al-Dahlawi, hal diatas dilakukan al-Bukhari kerena mengikor pada Abdurrozaq dan ibn Abi Syaibah, dalam  sub-sub bab buku keduanya, Karen ditemukan atsar al-Sahabat dan tabi’in dalam  buku keduanya, hal ini tidak ada manfaat bagi orang yang belum mendalami dua buku tersebut.
            Inilah! dan Dr. Nurudin atr menjelaskan dua metode yang lain dalam masalah Sub-sub bab yamg samar, yaitu:
            1. sub-sub bab mengandung hukum yang bertambahdari pada apa yang ditunjukan hadits, karena memang ditemukan hal seperti itu melalui jalur yang lain.
            Contohnya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan bernyanyi dalam masjid” al-Bukhari mentakhrij hadits Abu Salmah bin Abdurrahman……….
            Ibnu Hajar berkata, mengutip perkataan ibn Battol, dalam hadits diatas tidak ada penjelasan bahwa Hassan bernyanyi dalam masjid didepan Nabi saw. akan tetapi riwayat al-Bukhari yang menjelaskan  awal penciptaan dari jalur Sa’id, menunjukan bawa sabda Nabi saw. kepada Hassan, “Ajib ‘anni” itu didalam masjid dan dia bernyanyi seperti halnya orang musyrikmenjwab.
187
            2. kondisi sub-sub bab melalui jalan penyimpulan karena ada hubungan kelaziman.
Contohnya: perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan ahli ilmu dan fadol lebih hak diangkat imam, al-Bukhari mentakhrij hadits sakitnya Nabi saw. dan mengganti Abu Bakar untuk jadi imam,dengan jalur yang banyak dengan lafal yang hamper sama dan disitu ada perkataan Aisyah “………………”
            maka Nabi saw. mendahulukan orang yang nyaring dan kuat suaranya, dan sudah diketahui kalau Abu bakar adalah sahabat yang paling tinggi ilmu dan keistimewaanya, seperti dalil2 yang lain yang tidak dibahsa disini, maka sudah jelas bahwa mengedepankan sesorang adalah karena ilmu dan keistimewaanya, seperti halnya  al-Bukhari menjadikanya sebagai sub-sub bab.
            3. sub-sub bab yang lepas yaitu perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan: bercerita kepada kami fulan, tanpa menjelaskan title/topic dari bagi bab, dan al-Bukhari menampilkan dalam sub-sub bab yang lepas ini pada beberpa hadits yang ada kaitan dengan bab–bab yan mendahuluinya, maka posisi sub-sub bab yang lepas merupakan pemisah  dari bab sebelumnya Cuma ada keterkaitan.
            Ini adalah hal yang lebih diominan, dan kadang-kadang juga hadits2 dalam sub-sub bab yang lepas ada kaitanya dengan bab itu bukan dengan bab yan mendahuluinya, akan tetapi sedikit.
            sub-sub bab yang lepas sedikit sekali apabila disbanding dengan Sub-sub bab yang jelas dan Sub-sub bab yang samar, kami menghimpunya dalam kitab al-iman ada dua sub-sub bab yang lepas, yaitu bab 18 dan 38 dalam urutan kitab fath al-bariy, dalam kitab al-Tayammum ada dua juga, dalam kitab al-shalat ada tiga saja yaitu bab 55,79 dan 97.
278
            untuk menghipun sub-sub bab yang lepas dala sahih al-Bukhariy lebih gampang memakai fihras/daftar isi dalam kitab Tiasir al-Manfaat karangan Muhammad Fu’ad Abdulbaqiy.
            contoh sub-sub bab yang lepas yang ada kaitan dengan bab–bab yan mendahuluinya, perkataan al-Bukhari, “Inilah bab yang menjelaskan bercerita kepada kami abu al-Yaman, dia berkata: mengabarkan kepada kami syua’ib dari al-Zuhri, , dia berkata: mengabarkan kepadaku Abu Idris…………. terosagi tibi’ bosssss.
            Ibn Hajar berkata: perkataan al-Bukhari” Babun” dalam riwayat kami tidak ada tarjamah atau sub-sub, kalau tidak dijelaskan sub-sub bab yang khusus maka termasuk pemisah dengan bab sebelumnya akan tetapi ada keterkaitan, seperti tradesi para ulama fiqih, jalur keterkaitan dalam bab yang lalu yaitu “Inilah bab yang menjelaskan tanda-tanda keimanan adalah mencintai sahabat ansar” adalah: setelah menjelaskan sahabat ansar dalan  hadits pertama maka akan member isyarat dalam hadits kedua, kenapa dan apa sebab dinamakan sahabat ansar, karena hal itu terjadi pada malam pertam perjanjian Aqabah bersama nabi saw. dimina pada musim haji.
189
            contoh sub-sub bab yang lepas yang bukan pemisah akan tetapi ada kaitan dengan bab–bab yan mendahuluinya, perkataan al-Bukhari dalam bab shalat, setelah memasukan onta kedalam masjid karena illat, “Inilah bab yang menjelaskan. bercerita kepada kami Muhammad al-Mutsanna, dia berkata: bercerita kepada kami mu’azd bin hisyam, bercerita kepada ku Bapakkuu dari Qatadah, dia berkata: bercerita kepada kami Anas, bahwa ada dua orang laki-laki keluar dari sisi nabi saw. dimalam yang gelap, mereka berdua memegang dua lampu yang menyinari, setelah mereka berpisah maka lampu tersebut dibawa oleh masing2 mereka hingga sampai pada keluarganya.
            Ibn Hajar berkata: perkataan al-Bukhari” Babun” seperti ini pada dasarnya tidak ada tarjamah atau sub-sub, seakan2 al-Bukhari memutihkan lalu melnjutka seperti itu, kala perkataan ibn Rusyaid: sesungguhnya contoh seperti itu kalau terjadi di al-Bukhari maka hal itu sama dengan pemisah dari bab dan itu bagus kalau diantara bab itu dan bab sebelumnya ada korelasi, bebeda dengan contoh dalam kasus ini, kalau keterkaitan denga bab-bab masjid, maka itu termasuk bahwa dua orang laki-laki itu terlambat bersana nabi saw. dimalam yang gelap karena menunggu shalat isya”.

Minggu, 10 Juni 2012

SAGITA PAK ZAINUDDIN


Perbedaan penafsiran diantara ulama salaf

لغتهم العربية
Pendapat kami, para sahabat ra. menafsirkan al-quran sesuai dengan bahasa arab  sesuai perespektif mereka,
dan dengan pengetahuan mereka tentang asbab al-nuzul ( sebaba turunya ayat) juga dengan hal-hal dan kejadian yang ada kaitanya dengan asbab al-nuzul ( sebaba turunya ayat) tadi, mereka merujuk kepada Nabi saw. apa bila ada yang sulit difahami
وقلنا
Pendapat kami jug, bahwa para tabi’in belajar kepada para sahabat, mengambil dan meriwayatkan dari mereka (sahabat).
para tabi’in belajar metode penafsiran dari sahabat dan juga dalam penafsiran para tabi’in memakai al-ra’yu dan ijtihad mereka, dan bahasa arab mereka masih terjamin, untuk tidak sampai pada darajat yang lemah, seperti halnya kenerasi setelah mereka.
Inilah Pendapat kami masalah tafsir, dan kami tambahkan, bahwa pendokomentasian ilmu-ilmu adab, ilmu-ilmu logika, ilmu-ilmu alam,dan perbedaan pendapat dalam masalah fiqih dan ilmu kalam, semua ilmu-ilmu itu belum terangkat dan teraktualisasi dimasa sahabat dan tabi’in,
Meskipun pada masa sahabat dan tabi’in sudah ada bibit-bibit semua ilmu-ilmu tersebut, yang muncul pada generasi setelahnya,
Inilah kondisi di dimasa sahabat dan tabi’in, maka secara otomatis sangat sedikit perbedaan tafsir didua periode ini dibanding periode- periode yang lain, dan perbedaan itu tidak selebar pada periode- periode setelahnya.
perbedaan tafsir dimasa sahabat sangat sedikit sekali, demikian juga dimasa tabi’in meskipun lebih banyak daripada dimasa sahabat, dan perbedaan mereka masalah hukum islam lebih banyak dari pada perbedaan masalah tafsir.
kalau kami teliti pendapt-pendapat ulama salaf tentang tafsir dan kami himpun apa yang menjadi ketetapan mereka dalam tafsir bi al-ma’tsur maka kami akan menampilkan dengan gampang bahwa kebanyakan perbedaan- perbedaan mereka dalam satu masalah saja.
maka pendapat seorang sahabat berbeda denga pendapat sahabat yang lain, dan pendapat seorang tabi’in berbeda denga pendapat tabi’in yang lain bahkan kami menemukan dua pendapat dalam sayu masalah da kedua-duanya dinisbakan pada seorang saja.
apakah ini berarti perbedaan tafsir sangat luas perputaranya dimasa sahabat dan tabi’in?, dan apakah ini juga berarti bahwa seorang sahabat atau tabi’in, sering merusak pendapat mereka dalam satu masalah?
Tidak, bukan demikian, perbedaan tafsir tidak luas perputaranya dimasa sahabat dan tabi’in, dan tidak juga bahwa seorang sahabat atau tabi’in, sering merusak pendapat mereka dalam satu masalah.
hal tersebut disebabkan karena, kebanyakan perbedaan tafsir dimasa sahabat dan tabi’in, itu misalnya, Cuma berbeda didalam ibarat saja.
atau berbeda dalam  ragam prespektif saja bukan berbeda scara esensi dan berlawanan, seperti yang dituduhkan sebagian orang lalu dia mnceritakan bahwa perbedaan tafsir sahabat dan tabi’in, itu adalah pendapat-pendapat yang kontradiktif, yang sebagian tidak bisa meruju kesebagian yang lain.
dan kami mampu, setelah membahas dan meneliti pendapat2 yang berbeda tapi tidak bertentangan, bahwa perbedaan itu dikarenakan beberapa hal, yang akam kami jelaskan bahwa perbedaan tafsir dimasa sahabat dan tabi’in, itu tidak ada kontradiktif dan anti tesa diantara mereka. yaitu:
1. setiap mufassir dari sahabat dan tabi’in memakai bahas yang berbeda denga yang lain yang menunjukkan satu arti dalam satu orang yang disebut, berbeda dengan yang lain meskipun satu topic atau satu orang yang disebut, seperti nama-nama Allah yang baik.
dan nama-nama Rasulullah saw., nama-nama al-Quran, karena nama-nama Allah yang baik meskipun banyak akan tetapi itu cum untuk satu zat saja yaitu Allah swt. maka berdoa dengan satu nama dari nama-nama Allah yang baik tidak bertentengan dengan berdoa dengan nama lain dari nama-nama Allah yang baik, bahkan perintah Allah justru seperti firmanya: katakanlah, berdoalah kamu dengan kepada Allah atau kepada al-Rahman, kpan saja kamu berdoa maka baginya adalah nama-nama yang baik.
kalau kita meneliti setiap nama-nama Allah maka disana kita akan menemukan zat Allah dab satu sifat yang terkandung didalamnya, jadi “al-alim” menunjukan pada zat dan tahu, yaitu Allah maha tahu, juga “al-Qadir” menunjukan pada zat dan kuasa yaitu Allah maha kuasa dan seterusnya.
kemudian setiap nama-nama Allah itu menunjukan pada sifat yang juga ada di nama-nama Allah yang lain melalui jalan kelaziman, demikian juga di nama-nama Nabi saw.  seperti Muhammad, ahmad dan Hamid, juga nama-nama Al-Quran seperti Al-Furaqn, M.T.Hi., al-Huda semester IV, al-Syifa’ dll.
kalau maksud orang yang bertanya adalah menunjuk orang yang disebut, maka boleh mengibaratkan denga satu nama yang melekat padanya, kalau sudah diketahui namanya, contoh: firmanya: “barang siapa yang berpalig dari zdikir kepadaku…..”
 kalau ditanyakan apa itu zdikir? maka bisa dijawab Al-quran, atau kiatab, bisa juga petunjuk Allah, dll. menurut pendapat yang mengatakan bahwa: masdar (Kalimat yang menjadi asal muasal semua kalimat kata “zdikr”) bisa mudaf (kalimat dua menjadi satu) kepada fa’il (Ya’ mutakallim) seperti yang ditunjukkan susunan dan tata letak ayat.
kalau maksud orang yang bertanya adalah mengetahui sifat yang khusus maka pasti membutuhkan kadar tambahan untuk menunjuk orang yang disebut, missal bertanya, siapa “al-quddus”, “l-salam”, al-Mu’min”, dan al-Muhaimin” maka sudah diketahui kalau itu adalah Allah swt. akan tetapi yang dimaksud adalah diketahuinya allah maha suci, member keselamatan, member rasa aman, dan Allah yang maha memelihara. dll.
ulama salafus salih mengibaratkan orang yang disebut dengan bahsa yang menunjukan jenisnya, meskipun tidak mencakup semua sifat yang ada di nama yang lain, seperti bertanya: siapa “al-quddus”,? maka dijawab dia adalah Allah/al-rahman/al-ghafur tetapi maksudnya orang yang disebut adalah satu yaitu Allah swt. bukan bermaksud sifat “al-quddus” adalah jawaban-jawaban itu, perbedaan seperti contoh diatas sama sekali tidak ada pertentengan atau kontradiktif, seperti tuduhan beberapa orang.
Contohnya lagi perbedaan tafsir sahabat dan tabi’in,  adalah masalah al-Shiarat al-Mustaqim, sebagian berpendapat, adalah mengikuti al-Quran, Karen hadits nabi yang diriwayatkan al-Tirmidziy yaitu “ allah member contoh al-Shiarat al-Mustaqim, didua lambungnya ada dua pagar,
didua pagar itu ada pintu-pintu yang terbuka, di pintu-pintu ada tutup, ada seseorang memanggil dari atas al-Shiarat dan ada seseoranglagi memanggil dari ujung al-Shiarat, Nabi bersabda: al-Shiarat al-Mustaqim adalah agama islam, dua pagar itu adalah had-had Allah, pintu-pintu yang terbuka itu adalah larangan Allah, seseorang memanggil dari ujung al-Shiarat adalah kitab Allah, dan seseoranglagi memanggil dari atas al-Shiarat,adalah peringatan Allah dihati seorang mu’min.
sebagian berpendapat: al-Shiarat al-Mustaqim adalah mengikuti sunah wal jama’ah, sebagian lagi berpendapat:  al-Shiarat al-Mustaqim adalah jalan ibadah,
sebagian lagi berpendapat:  al-Shiarat al-Mustaqim adalah taat kepada Allah dan Rasulnya, dll.
pendapat seperti ini tidaklah menunjukkan perbedaan dan pertemtengan, bahkan semua pendapat- pendapat itu pada hakikatnya sepakat, karena agama islam adah mengikuti al-Quran, yaitu taat kepada Allah dan Rasulnya, dan itu adalah jalan ibadah, jadi esensinya sama, Cuma semua pendapat- pendapat itu mengamati dari presfekti berbeda-beda.