Puji syukur kepada tuhan kita ; Allah yang maha agung.
Kita
menerima rahmat gusti allah, bertemu dengan ilmu luhur dan mulia,
nyatanya; agama islam, bahagia untung lahir dan bathin menerima taufiq
dari Allah ta’ala, maka wajiblah kita syukuran atas nikmat ini.
Setelah
kita panjatkan puji dan syukur kepada allah, kita lanjutkan dengan
‘eling’ disertai iman yang teguh kuat dalam menghadapi segala ujian
lahir dan bathin, ini adalah kewajiban kita, bahwa kita mesti berusaha
untuk kemuliaan diri pribadi kita, dengan jalan taqwa kepada allah
didalam sabar tawaqal, ikhlas dalam mengamalkan menurut ajaran agama
islam.
Dalam
perihal ‘waktu’ kitalah yang mengatur, jangan berat sebelah; nanti
akhirnya jadi siksa. Adapun masalah waktu itu terbagi dua; ada waktu
untuk ibadah dan ada waktu untuk berusaha. Nah ... disini kita langsung
bisa tahu kepada waktu yang wajib digarap oleh kita, memenuhi tugas suci
dari Tuhan kita ‘Allah SWT’, didunia haruslah beribadah.
Oleh
sebab itu, sekarang kita bagi; mana waktu untuk sholat, mana waktu
untuk usaha, keduanya harus sama terisi, supaya lancar ibadahnya, tidak
akan bertemu dengan rasa munafik, tenang dalam melaksanakannya.
Bagi
kita jangan menjadi fanatik (fanatisme), nanti berakibat kebodohan yang
panjang, selain bodoh ada lagi kelebihannya, yaitu bakal mengurangi
persaudaraan, boro-boro dengan yang lain sedang dengan saudara sendiri
saja pecah bahkan terasingkan, yang akhirnya didalam pergaulan hidup
kita bakal terlihat ganjil, kurang pengetahuan yang tentunya bakal
tertinggal segala-galanya, tidak akan ada peningkatan.
فَما
لَكُم فِى المُنٰفِقينَ فِئَتَينِ وَاللَّهُ أَركَسَهُم بِما كَسَبوا ۚ
أَتُريدونَ أَن تَهدوا مَن أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَن يُضلِلِ اللَّهُ فَلَن
تَجِدَ لَهُ سَبيلًا ﴿٨٨
88.
Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan[328] dalam
(menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka
kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? apakah kamu
bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang Telah disesatkan
Allah[329]? barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak
mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. [QS (4 : 88)]. *[328]
Maksudnya: golongan orang-orang mukmin yang membela orang-orang munafik
dan golongan orang-orang mukmin yang memusuhi mereka. **[329]
disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya
dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena
mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan
nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.
إِنَّ
الَّذينَ فَرَّقوا دينَهُم وَكانوا شِيَعًا لَستَ مِنهُم فى شَيءٍ ۚ
إِنَّما أَمرُهُم إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِما كانوا يَفعَلونَ ﴿١٥٩﴾
159.
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka
menjadi bergolongan[525], tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada
mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah,
Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka
perbuat. [QS (6 : 159)] *[525] Maksudnya: ialah golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya.
مِنَ الَّذينَ فَرَّقوا دينَهُم وَكانوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزبٍ بِما لَدَيهِم فَرِحونَ ﴿٣٢﴾
32.
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka
menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada golongan mereka. [QS (30 : 32)] *[1169] Maksudnya: meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka.
Hidup dalam
kerukunan modal suci asalnya fitrah manusia, halus budi bahasa , prilaku
sopan santun, ramah tamah, harus ada dalam diri manusia, sempurnanya
fitrah manusia dalam tekad ucap lampah; hanya akan di dapat dari sholat
lima waktu selama hidup sampai ajal menjelang, peringatan dan penggugah
sering di temui supaya kita eling kepada Allah , rupa-rupa kejadian yang
terasa, terlihat, itu jelas merupakan penggugah/peringatan sebagai
ilham langsung dari Allah supaya kita kembali eling kepada Nya.
Kadang-kadang
secara tidak sengaja kita bertemu dengan yang mengalami kematian, itu
ilham dari Allah yang lansung kepada kita, supaya kita bisa tahu,
pertanda bahwa diri kita juga awal akhir, cepat atau lambat bakal
mengalami mati yang tidak berbeda dengan itu, juga masih banyak lagi
yang diperlihatkan oleh Allah yang tidak terjangkau akal pikiran
manusia.
Ini
satu tanda bahwa Allah mengasihi – menyayangi kepada kita, tetap
memperingati. Sekarang tinggal kita yang kokoh teguh mengakitkan tali
dijalan taukhid. Jangan terlepas lagi, nanti di akhir mengalami kerugian
dan penyesalan. Sejak sekarang kita jaga dan pelihara diri kita dengan
ilmu yang bermanfaat, baik yang lahiriyah maupun yang batiniyah, demi
kepuasan pribadi kita didunia dan akhirat. Dalam mengasuh wujud jangan
kasar berangasan harus lantip, tenang tenteram, jangan ujub riya dan
takabur nanti wujud ketempuhan yang rugi diri sendiri.
Di
dunia jangan terpana hanyut terbawa arus kehidupan, harus waspada,
harus bisa memperhatikan amal kemarin, hari ini dan hari esok, sangsinya
lusa. Ini yang harus jadi ingatan, barangkali kemarin banyak amal yang
salah, hari ini kita perbaiki , mumpung belum datang hari esok. Sebab
kalau hari lusa itu hari penutupan ibadah, tinggal amal yang bercerita,
kita yang bertanggung jawab kepada Allah yang maha adil. Lantaran kita
hanya bisa memperbaiki pada hari ini, hari esok belum tentu kita jalani.
Maka pada hari ini buatlah amal yang mampu dipertanggung jawabkan.
Sesungguhnya
Allah telah menurunkan kitab suci Al-Qur’an untuk manusia yang ada di
dunia ini, supaya di yaumil qiyamah dihadapan Allah tidak perlu
berbicara lagi, begitu yang tersurat didalam ayat suci Al-Qur’an, maka
mudah-mudahan kita semua bisa mengamalkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar